Home » life style » saya bermimpi jadi orang kaya #2

saya bermimpi jadi orang kaya #2

Setelah tamat dari kuliah Perpajakan saya pernah bermimpi, mimpi jadi orang kaya. Dengan bekal pengetahuan seadanya, modal dengkul dengan ditambah bantuan kolega / temen-temen yang kerja di instansi-instansi terkait, temenan juga dengan konsultan (biar keliatan keren).

Bercita-cita saja sulit, apalagi untuk merealisasikannya. Hahaha… tapi inilah, dengan bercita-cita akhirnya timbul ide menyusun strategi yang diharapkan dapat berjalan dengan sistematis. Apa yang semestinya dipersiapkan terlebih dulu, siapa yang harus dihubungi, dan kemana harus melangkah. Permainan peran dalam skenario mimpi ini cukup memutar otak.

Ceritanya saya mulai dari sini:

Berawal dari mendirikan perusahaan garmen yang punya orientasi ekspor (dianggaplah saya sudah punya cukup modal untuk membangun perusahaan dan ditambah lagi ada sedikit pinjaman dari bank supaya debt to equity ratio-nya ideal, kata orang finance), saya mencoba untuk mendapatkan buyers dari luar negeri. Saya cari saja buyers tersebut dari internet, setelah itu komunikasi lewat email dan kunjungan ke tempat produksi saya di Indonesia.

Setelah terjadi kesepakatan mengenai jenis barang yang dipesan, jumlah, model dan kualitas yang disepakati, kemudian barang diproduksi dan beberapa minggu berikutnya barang di ekspor. Ambil contohlah, negara tujuan ekspor dari buyers adalah Yaman.

Sebenarnya dari sini saya sudah mulai menghitung-hitung berapa dana tambahan yang akan saya peroleh. Karena garmen mendapatkan fasilitas di bidang perpajakan, maka atas barang yang saya ekspor tersebut fakturnya saya restitusi. Lumayan kan, PPN 10% yang pernah saya bayarkan ke kas negara bisa saya tarik kembali.

Dari hasil proses pabrikasi saya kalkulasi ada alokasi keuntungan 15% setelah dipotong dengan PPh, dan ada barang-barang scrap dan spoilage (cacat produksi) yang masih bisa saya jual ke pedagang lain di dalam negeri (tidak di-ekspor). Supaya kelihatan bagus dari sisi manajemen produksinya, saya batasi produk cacat tidak lebih dari atau maksimal sebesar 5%.

Kemudian buyers saya ajak ke Pasar Tanah Abang, mereka tertarik dengan barang-barang yang dijual disana juga rupanya. Saya bilang, “Gampang, anda mau dikirim yang model mana. Harganyanya bisa kita atur. Pengiriman juga bisa bersamaan dengan barang pesanan yang lain”. Untuk kasus ini saya juga harus meng-ekspor barang hasil pembelian dari Pasar Tanah Abang.

Dalam dokumen ekspor kan harus tertulis bahwa barang tersebut adalah produksi pabrik saya, karena merupakan satu kesatuan dengan barang hasil pabrikan saya. Fakturnya bagaimana? (pura-pura mikir serius…). Pabrikan bahan (kain) misalnya dari Bandung, dalam penjualan mereka kepada pabrikan garmen akan disertai dengan faktur. Sedangkan untuk penjualan bahan (kain) eceran ke pasar Tanah Abang misalnya, fakturnya tidak termanfaatkan. Pedagang bahan (kain) di Tanah Abang juga menjual kepada konsumen tanpa faktur.

Nah, faktur dari pabrikan dari Bandung ini yang kita manfaatkan. Dengan perkiraan hasil restitusi 10%, saya alokasikan untuk beli faktur sebesar 3%, uang administrasi sana-sini 3%, dan sisanya untuk saya… 4% (lumayan).

Setelah selesai produksi dan semua barang siap di-ekspor, berapa kira-kira keuntungan yang akan saya peroleh?

Kita mulai berhitung nich (hitungan kasar aja yaa) :

  1. Untuk barang dari pabrikasi misalnya Rp1.000,- kita untung 15% = Rp150,-
  2. Faktur pajak masukan misalnya Rp800,- yang bisa direstitusi dari pabrikasi = Rp80,-
  3. Dari faktur yang dibeli dari pabrik bahan (kain) di Bandung misalnya Rp500,-, karena nantinya data fakturnya masuk dalam barang yang di-ekspor maka pajak masukan yang direstitusi = Rp50,-. Setelah dikurangi dengan biaya beli faktur Rp15,- & biaya sana-sini (untuk pengurusan di BPEN, bea cukai, kedutaan, KPP, dan adm lainnya) sebesar Rp15-, sisanya untuk saya lagi sebesar = Rp20,-.
  4. Masih ada satu lagi. Hasil scrap / spoilage dihitung saja 5% dari hasil pabrikasi (=Rp50,-), dijual dengan separoh harga = Rp25,-

Dari hitungan kasar ini, saya sudah menghitung 5 tahun kedepan kira-kira seperti ini:

  • Yaaa, paling tidak pinjaman ke bank untuk operasional perusahaan sudah terlunasi.
  • Saya tiap tahun dapat devidend (pemodalnya saya).
  • Saya juga dapat tantiem (direkturnya saya juga sih).
  • Saya bisa jalan-jalan ke luar negeri untuk studi banding dan shopping dengan biaya perusahaan.
  • dan saya masih bisa macem-macem lagi… (tunggu di mimpi saya berikutnya)

Untuk sementara etika bisnis pura-pura belum saya ketahui. Saya masih mabuk dengan euphoria keberhasilan bisnis saya.

namanya juga mimpi, boleh-boleh saja kan…

… artikel yang related:

Eof.


1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Bookmark and Share

Categories

Archives

GeoCounter

Blog Stats

  • 101,160 hits

Biorhythm Calculator

BIZ information

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 142 other followers

%d bloggers like this: