Home » life style » Robohnya Surau Kami

Robohnya Surau Kami

Kalau diibaratkan perusahaan kita (tidak perlu Indonesia ataupun daerah Padang Panjang di Sumatera Barat) adalah salah satu contoh (atau bahkan relevan) dari realita kekinian cerpen “Robohnya Surau Kami“, tidaklah berlebihan. Dengan hanya mencari apa yang menjadi tujuan masing-masing individu di dalam perusahaan, maka semakin jelas bahwa egoisme individu semakin mengedepan. Egoisme ini bak nahkoda dalam kapal pesiar, sedikit banyak akan membawa pengaruh dalam menggerakkan kapal, kemana akan berlabuh atau kemanakah akan berlayar. Coba renungkan dan jawab dengan jujur dari hati kecil anda sendiri…

Perusahaan dilihat dari sudut pandang badan usaha yang mencari keuntungan dengan meningkatkan value welfare untuk shareholders-nya, selayaknya juga membawa dampak positif bagi stakeholders di lingkungan tempat usahanya. Dengan demikian akan terjadi simbiosis mutualisme antara perusahaan dengan stakeholders di sisi lain. Dan bisa ditebak bahwa multiplier-nya akan berdampak kembali ke perusahaan.

Egocentric sebagaimana yang disindirkan oleh Ajo Sidi kepada Haji Soleh dalam cerpen tersebut merupakan salah satu sindiran bagi kita selaku individu di perusahaan, apa yang sudah kita berikan untuk perusahaan. Bukan hak individu semata yang harus kita cari, tetapi kepedulian terhadap perusahaan dan sesama karyawan juga sama pentingnya.

Sedangkan sindiran bagi perusahaan dalam pengelolaan dunia usahanya, bahwa perusahaan juga tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan dari stakeholders. Pelaksanaan Corporate Social Responsibility  (CSR) memang harus direalisasikan dan dikontrol untuk menunjang kegiatan perusahaan dalam rangka menjalankan kegiatan usahanya. Tetapi bukan berarti manajemen perusahaan dengan menjalankan CSR-nya tanpa memperhitungkan dampak value walfare yang akan dikontribusikan kepada shareholders-nya.

Berikut cuplikan cerpen yang menarik tersebut :

___________________________

Robohnya Surau Kami adalah sebuah kumpulan cerpen sosio-religi karya A.A. Navis. Cerpen ini pertama kali terbit pada tahun 1956, yang menceritakan dialog Tuhan dengan Haji Saleh, seorang warga Negara Indonesia yang selama hidupnya hanya beribadah dan beribadah. Cerpen ini dipandang sebagai salah satu karya monumental dalam dunia sastra Indonesia[1].

Buku Robohnya Surau Kami ini berisi 10 cerpen: Robohnya Surau Kami, Anak Kebanggaan, Nasihat-nasihat, Topi Helm, Datangnya dan Perginya, Pada Pembotakan Terakhir, Angin dari Gunung, Menanti Kelahiran, Penolong, dan Dari Masa ke Masa.

Di dalam setiap cerpennya di buku ini, A.A. Navis menampilkan wajah Indonesia di zamannya dengan penuh kegetiran. Penuh dengan kata-kata satir dan cemoohan akan kekolotan pemikiran manusia Indonesia saat itu – yang masih relevan di masa sekarang ini.

Cerpen “Robohnya Surau Kami” bercerita tentang kisah tragis matinya seorang Kakek penjaga surau (masjid yang berukuran kecil)di kota kelahiran tokoh utama cerpen itu. Dia – si Kakek, meninggal dengan menggorok lehernya sendiri setelah mendapat cerita dari Ajo Sidi-si Pembual, tentang Haji Soleh yang masuk neraka walaupun pekerjaan sehari-harinya beribadah di Masjid, persis yang dilakukan oleh si Kakek. Haji Soleh dalam cerita Ajo Sidi adalah orang yang rajin beribadah, semua ibadah dari A sampai Z ia laksanakan semua, dengan tekun.Tapi, saat “hari keputusan”, hari ditentukannya manusia masuk surga atau neraka, Haji Soleh malah dimasukkan ke neraka. Haji Soleh memprotes Tuhan, mungkin dia alpa pikirnya. Tapi, mana mungkin Tuhan alpa, maka dijelaskanlah alasan dia masuk neraka, “kamu tinggal di tanah Indonesia yang mahakaya raya,tapi, engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniyaya semua. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang.” Merasa tersindir dan tertekan oleh cerita Ajo Sidi, Kakek memutuskan bunuh diri. Dan Ajo Sidi yang mengetahui kematian Kakek hanya berpesan kepada istrinya untuk membelikan kain kafan tujuh lapis untuk Kakek, lalu pergi kerja.

[sunting] Catatan kaki

  1. ^ http://www.gramedia.com/buku_detail.asp?id=ECOI3338&kat=4

.
______________
Cerpen ini pertama kali terbit bulan November 1956. Sampai sekarang entah sudah cetakan yang keberapa dan masih relevan. Di sekitar kita, masih banyak orang-orang yang egois, tidak hanya dalam materi, tapi juga dalam kehidupan beragama. Maunya jadi saleh sendiri, kaya sendiri, tanpa mau melihat sekitarnya, bahwa masih begitu banyak kebodohan, kemiskinan, dan kejahiliahan.
Perintah mencari ilmu selaras dengan perintah beramal…………
“Bersungguh-sungguhlah mencari kehidupan akhiratmu, tapi jangan lupakan bagianmu di dunia.”
.

______________
A.A. Navis penulis cerpen “Robohnya Surau Kami”:


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Bookmark and Share

Categories

Archives

GeoCounter

Blog Stats

  • 101,157 hits

Biorhythm Calculator

BIZ information

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 142 other followers

%d bloggers like this: