Archive

Archive for the ‘property’ Category

Melayangkan Pandang ke Selatan Jakarta

Sejak awal Cibubur memang lebih diperuntukkan sebagai hunian, kondisi alamnya relatif lebih asri dibandingkan wilayah ibukota

Kamis, 19 Maret 2009 | 15:09 WIB

KOMPAS.com – Area ini sejak awal memang lebih diperuntukkan sebagai hunian. Hal ini tak lepas dari kondisi alamnya yang relatif lebih asri dibandingkan wilayah ibukota. Mulai dari kondisi air yang masih jernih, lingkungan yang masih relatif hijau, maupun telah berkembangnya kawasan secara penuh dengan banyaknya area komersial dan fasilitas umum.

Sejak dulu, kawasan ini menyerap market yang tinggi. Meski area Cibubur sudah semakin penuh, bukan berarti masing-masing pengembang di setiap kawasan berhenti melakukan pembangunan. Selain menambah jumlah cluster hunian, di antaranya juga melengkapi fasilitas yang tersedia dalam kawasan untuk meningkatkan kenyamanan penghuni.

Tak heran jika akhirnya Cibubur tetap dilirik oleh warga komuter. Penjualan properti di daerah ini pun terus bergeliat, meski beberapa pengembang mengakui adanya sedikit penurunan dibandingkan periode yang sama di tahun lalu.

Tengok saja misalnya perumahan Raffles Hills yang dikenal dengan tata lingkungannya yang sangat asri. Dengan banyaknya pepohonan dan pembangunan yang disesuaikan dengan lanskap asli, menjadikannya sebuah hunian ideal untuk berelaksasi secara maksimal.

Salah satu pionir properti di daerah Cibubur ini pun masih terus meluncurkan cluster terbarunya di tahun lalu. Sesuai dengan konsep awalnya membangun hunian di dalam taman, meski terus merambah wilayah baru untuk pembangunan cluster anyar, Raffles Hills tetap mempertahankan adanya lahan hijau terbuka sebesar 40% dari total wilayahnya yang sebesar 250 hektar. Komposisi 40:60 untuk bangunan ini pun diterapkan pada pembangunan tiap unit rumahnya untuk mempertahankan kondisi asri, demikian penjelasan Mellisa Chandra, Marketing Manager PT Gunungsubur Sentosa.

Di samping itu, meski Cibubur bebas dari track record banjir-berhubung letak geografisnya yang cukup tinggi yaitu sekitar 70-90m di atas permukaan laut-sistem pengelolaan air dilakukan secara seksama. Diantaranya dengan membuat sistem serapan air di setiap unit rumah sehingga air yang keluar tidak terbuang percuma.

Cileungsi

Kondisi ini tidak berbeda jauh dengan Cileungsi. Kawasan yang merupakan bagian dari pemekaran pembangunan Cibubur ini mulai mendapat perhatian dari banyak pengembang. Mulai dari pengembang kecil, menengah, hingga berskala besar seperti Harvest City, yang secara sinergis semakin menggairahkan kawasan.

Daerah ini mulai bergeliat sejak dibukanya jalur Narogong-Bekasi dan memiliki potensi besar apabila ruas tol JORR II terealisir, yang bisa memicu hingga daerah Cimanggis, Depok. Dengan demikian, untuk mengakses Cileungsi tak perlu lagi melewati jalan Trans Yogi yang kini mulai padat, khususnya di jam-jam sibuk.

Di sisi lain, jalan menuju daerah Tambun, Bekasi nantinya juga akan ditingkatkan dari semula jalan kabupaten menjadi jalan propinsi. Jika semua hat tersebut sudah tercapai, maka secara sinergis akan menjadi akselerator bagi perkembangan Cileungsi.

Salah satu perumahan yang konsisten dalam membangun dan mengembangkan kawasannya hingga kini adalah Taman Cileungsi. Perumahan yang ditujukan untuk kelas rumah sederhana ini mulai melebarkan segmennya dengan mengambil pasar menengah. Jika sebelumnya memasarkan unit rumah dengan kisaran harga Rp 55-70 juta, kini Cluster Anggrek yang baru diluncurkan dipatok dengan harga Rp 55-200 juta.

“Justru sejak Cluster Anggrek diluncurkan pada Februari lalu, yang lebih banyak terjual tipe rumah besarnya,” jelas Nitik Hening Muji Raharjo, General Manager PT Metropolitan Land.

Meski terjadi penurunan sejak adanya krisis global, namun penjualan tetap berlangsung dan pengurangan yang terjadi jika dibandingkan tahun lalu-tidak signifikan. Cluster Anggrek, misalnya, yang kurang lebih selama sebulan ini telah mencapai penjualan sekitar 15 persennya.

Pelebaran segmen ini pun ditunjang dengan pembangunan fasilitas kawasan. Di antaranya dengan lebar jalan ROW 8 m, pengelolaan kawasan yang masih dipegang oleh pengembang untuk masalah kebersihan, tata lingkungan, maupun pengelolaan air.

Meski relatif aman dari banjir, namun persiapan sudah dilakukan sejak dini untuk mengantisipasi 10-20 tahun mendatang. Yaitu dengan membuat boundary drain di sekeliling lingkungan perumahan yang mencegah air di luar kawasan masuk. Di samping itu dibuat pula danau seluas 1 ha sebagai penampungan air sementara.

Sumber : Kompas Cetak

Nyicil KPR Sekaligus Renovasi, Emang Bisa?

Kredit renovasi KPR tidak hanya untuk pembelian rumah pertama, melainkan juga rumah rusak dan harus butuh renovasi

Kamis, 19 Maret 2009 | 10:44 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sebutlah, seorang konsumen membeli rumah dari pengembang seharga Rp 300 juta. Untuk kebutuhan itu, si konsumen sudah membayarkan uang muka sejumlah 30 persen. Sisa uang muka dibayarkan kemudian olehnya melalui KPR.

Namun seiring pengajuan kredit tersebut, si konsumen juga berencana merenovasi rumahnya. Dan untuk membiayai rencana renovasi ini, si konsumen konsumen membutuhkan dana Rp 100 juta dengan total Rencana Anggaran Biaya (RAB) sebesar Rp 150 juta.

Masalahnya, apakah bank dapat memberikan KPR rumah baru sekaligus juga memberikan kredit renovasi untuk rumah baru itu? Lalu, syarat dan ketentuannya apakah sama dengan permohonan KPR biasa?

Sebetulnya, sama dan hal itu tidak akan sulit diwujudkan. Beberapa bank saat ini memang menawarkan penyediaan fasilitas kredit untuk pembiayaan KPR sekaligus pembiayaan renovasinya. Hanya saja, setiap bank memiliki kebijaksanaan tersendiri dan berbeda dalam sektor pembiayaan KPR-nya.

Pengajuan persyaratan dan ketentuan kredit renovasi sama seperti halnya KPR. Hanya saja, perlu ada tambahan dokumen berupa RAB, Izin Mendirikan Bangunan (IMB), serta Denah Bangunan baru.

Namun, mengingat plafon ajuan kredit digunakan untuk dua kepentingan, yaitu beli dan renovasi, umumnya pencairan kredit akan ditukar silang. Sebagian ditransfer langsung ke developer untuk pelunasaan pembayaran rumah, sebagian lainnya dicairkan bertahap sesuai progres pembangunan rumah.

Pilih Bank Mana?
Pengajuan kredit renovasi itu biasanya dilakukan oleh mereka yang memiliki rumah pertama. Setelah dua hingga tahun, pemilik rumah biasanya membutuhkan renovasi atau membutuhkan ruang tambahan.

Tetapi, pengajuan kredit renovasi ini tidak hanya berlaku bagi mereka yang melakukan pembelian rumah pertama. Rumah yang kita tempati pun, jika memang rusak dan membutuhkan renovasi, bisa diajukan pembiayaannya secara KPR, baik itu rusak atau ingin menambah bagian-bagian rumah.

Mengajukan kredit ke bank atau KPR sejauh ini memang altenatif solusi yang bisa dilakukan. Masalah anggaran, — yang kerap mengganjal keinginan merenovasi, kini bisa diatasi dengan kredit melalui bank.

Bagi bank sendiri, tingginya kebutuhan fasilitas pembiayaan renovasi itu menjadi celah bisnis yang belakangan semakin tinggi. KPR tidak lagi semata untuk pembelian rumah, melainkan juga bisa digunakan masyarakat untuk merenovasi rumahnya.

BNI misalnya, yang mengajukan penawaran kredit renovasi melalui BNI iB Griya. Melalui fasilitas pembiayaan ini, nasabah bisa mewujudkan kebutuhan perumahan, kavling siap bangun, serta merenovasi rumah dengan plafon kredit minimal Rp 25 – 30 juta dan maksimal mencapai Rp 500 juta lebih.

BCA pun serupa BNI, yang menyediakan fasilitas kredit untuk renovasi. Bank swasta tersebut menawarkan KPR BCA, yaitu pinjaman yang ditujukan untuk membiayai pembelian serta perbaikan rumah tinggal untuk dimiliki atau ditempati sendiri oleh pemiliknya.

KPR BCA diberikan kepada individual atau para karyawan perusahaan yang memenuhi persyaratan dan mampu membayar dengan cara mengangsur. Seperti dilansir dari situs mereka, persyaratannya pun ternyata mudah, antara lain WNI dengan status karyawan tetap, pengusaha, atau professional. Syarat lain yang cukup dirasakan penting adalah calon nasabah harus sudah lama bekerja atau minimal telah dua tahun tengah menjalani masa kerja.

Lainnya adalah Bank CIMB Niaga dan BTN yang juga sama-sama memfasilitasi pembiayaan kredit serupa. Bahkan, Bank Niaga memberikan keistimewaan, yaitu bunga yang kompetitif, jangka waktu pinjaman hingga 20 tahun, serta pembiayaan bank hingga 10 persen dari rencana anggaran biaya (RAB) atau maksimal 80 persen dari nilai nilai jaminan.

Sementara itu, BTN juga memberikan keistimewaan. Kepada para nasabahnya, BTN memberikan kelonggaran dalam hal jangka waktu pengambilan yang bisa sampai 10 tahun. Sedangkan bunganya sebesar 19 persen.

Kiranya, renovasi rumah bukan lagi persoalan sulit di masa yang semakin sulit ini. Karena, selain tawaran beberapa bank yang disebutkan di atas, sejumlah bank lain juga punya fasilitas KPR untuk membantu merenovasi rumah Anda. Hanya saja, Anda harus lebih bijak dalam menghitung keuangan, pintar memilah-milih bank, serta pada akhirnya, tegas dalam membuat keputusan untuk benar-benar ingin memanfaatkan fasilitas pembiayaan dari bank-bank tersebut.
LTF

Categories: property Tags: ,

Mau Ambil KPR, Bereskan Dulu Keuangan Anda (1)

Kompas.com Kamis, 19 Maret 2009 | 09:50 WIB

BANYAK hal yang sifatnya non-administrasi yang perlu diperhatikan sebelum mengambil KPR. Dengan demikian Anda akan merasa nyaman ketika membayar cicilan KPR setiap bulannya.

Apa yang dibutuhkan orang ketika membeli rumah? Sudah tentu mereka membutuhkan dana yang tidak sedikit. Kebutuhan ini bisa diatasi dengan adanya bantuan dari bank berupa KPR.

Untuk mendapatkan kucuran dana KPR, sudah pasti Anda sebagai calon debitur harus menyiapkan segala persyaratan, baik persyaratan administrasi maupun persyaratan non-administrasi.

Seperti yang telah diketahui, setiap calon debitur harus menyerahkan beberapa persyaratan administrasi yang diminta oleh bank. Bila Anda bekerja sebagai karyawan swasta di sebuah perusahaan maka Anda diwajibkan untuk menyerahkan slip gaji atau surat keterangan bahwa Anda telah bekerja di perusahaan tersebut. Selain itu, Anda juga harus menyerahkan fotokopi buku rekening Anda di bank.

Disamping persyaratan administrasi di atas, persyaratan non-administrasi setidaknya harus Anda perhatikan. Hal ini, menurut Mike Rini (konsultan keuangan dari Safir Senduk dan Rekan), setidaknya akan membuat Anda merasa nyaman ketika membayar cicilan KPR setiap bulannya.

Mike menambahkan, ada beberapa persyaratan non-administrasi yang perlu diperhatikan ketika akan mengambil KPR. Sekilas, ketiganya mungkin dapat dianggap sepele. Namun bila tidak diperhatikan, dampaknya akan muncul suatu saat—entah permohonan KPR-nya ditolak atau Anda tidak sanggup membayar cicilan KPR setiap bulan. Ketiga hal yang patut Anda perhatikan adalah sebagai berikut.

1. Lunasi hutang yang lain
Bila Anda memiliki hutang lain, sebaiknya lunasi dulu sebelum mengambil pinjaman dalam bentuk KPR. Sebab KPR juga adalah hutang. Jadi bila Anda mempunyai hutang lain maka pos anggaran untuk hutang Anda akan bertambah banyak.

Hutang yang dimaksud di sini bisa berupa hutang kartu kredit. Anda jangan salah persepsi dulu dengan hutang kartu kredit. Walaupun Anda bisa membayar hutang kartu kredit dengan pembayaran minimum, tetapi sisa hutang itu akan bertambah banyak. Mengapa hal ini terjadi? Sebab sisa hutang yang dibayarkan minimum akan terkena bunga. Bunga itu semakin lama akan semakin banyak. Alhasil hutang Anda akan menumpuk.

Untuk mencegah agar jumlah hutang Anda tidak bertambah, hendaknya Anda terlebih dahulu melunasi atau mengurangi tagihan kartu kredit. Selain itu, usahakan untuk membayar cicilan hutang kartu kredit secara tepat waktu.

Bila Anda bisa membayar hutang tepat waktu, setidaknya aliran keuangan Anda dapat terkontrol. Dari sini Anda juga dapat belajar atau membiasakan diri untuk membayar cicilan hutang tepat waktu. Hal ini juga akan berdampak bila Anda nantinya akan membayar cicilan KPR. Bila saat ini Anda sudah tepat waktu membayar hutang yang lain maka setidaknya Anda juga tepat waktu untuk membayar cicilan KPR.

Menurut Rini—yang pernah bekerja sebagai analis kredit di sebuah bank swasta—pihak bank yang akan memberi KPR akan menganalisa kondisi keuangan Anda yang sebenarnya. Mereka bisa mengecek bank lain untuk mengetahui apakah Anda mempunyai hutang di tempat tersebut. Dengan demikian bila Anda mempunyai hutang dan pembayaran cicilannya terlambat setiap bulannya, maka pihak bank akan mengetahuinya.

Bila hal ini terjadi, pihak bank akan menganalisa bahwa Anda sebetulnya tidak layak menerima kredit atau permohonan KPR Anda ditolak. Pihak bank takut bilamana hal yang sama terulang lagi, yaitu Anda melakukan wanprestasi atas kewajiban pembayaran hutang.

Untuk hutang yang nilainya kecil, Rini menyarankan untuk segera melunasinya. Semisal Anda mempunyai hutang kepada teman Anda. Walaupun nilanya kecil, hendaknya Anda membayar lunas hutang itu sebelum mengambil KPR sehingga Anda tidak perlu lagi memikirkan pelunasan hutang tersebut. (bersambung)

Categories: property Tags: , ,

Antara Mimpi dan Kenyataan

Rabu, 18 Maret 2009 | 13:23 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Keputusan memanfaatkan pembiayaan bank melalui fasilitas KPR membuat banyak orang meraih mimpinya menjadi kenyataan untuk memiliki rumah. Rasanya, tangan ini ringan untuk mengeluarkan uang tunai bila jumlahnya sedikit-sedikit. Tahu-tahu, sebuah rumah baru jadi milik Anda sendiri.

Namun ternyata tidak sedikit pula yang tetap hanya bisa bermimpi memiliki rumah. Bagi sebagian orang, memanfaatkan fasilitas KPR, sejatinya, tak semudah membalik telapak tangan. Di mata mereka, bank sebagai fasilitator KPR terasa begitu menjaga ketat penyaluran kredit mereka. Birokrasi pun seolah berbelit dan menyulitkan, yang ujung-ujungnya pengajuan kredit ditolak.

Namun, hal itu tentu sah saja. Imbas krisis ekonomi global dan tingginya suku bunga, boleh jadi, membuat bank kini semakin selektif meluluskan pengajuan kredit konsumen. Sebagai empunya fasilitas KPR, bank pun tidak mau ambil risiko jika pelunasan kredit konsumen tiba-tiba macet di tengah jalan.

Beragam alasan bank menolak pengajuan itu. Mulai tidak lengkapnya persyaratan hingga pendapatan konsumen yang kurang memadai kerap menjadi seleksi utama yang menjegal konsumen saat dilakukannya verifikasi data oleh bank.

Untuk itulah, dibutuhkan kerja keras konsumen untuk mementingkan faktor ketelitian saat mengajukan KPR. Ketelitian itu termasuk soal pemilihan bank yang akan memberikan fasilitas pembiayaan KPR-nya.

Berikut ini beberapa hal penting perlu diperhatikan saat akan mengajukan KPR:

Persiapan:
- Tidak ada salahnya Anda lebih dulu menyewa rumah. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, menyewa rumah memberi waktu untuk Anda mengatur kesiapan sebelum benar-benar memutuskan untuk memiliki rumah sendiri melalui pengajuan KPR

- Evaluasi kembali pengelolaan keuangan pribadi Anda atau keluarga Anda mulai dari hulu hingga ke hilir. Camkan, bahwa rasio cicilan dan penghasilan juga perlu diperhatikan, yaitu maksimal sebesar 30 persen

- Berdasarkan evaluasi itu, pikirkan dan pertimbangkan masak-masak faktor dan risiko yang akan berdampak panjang pada pengeluaran Anda selanjutnya. Karena, selain memikirkan biaya hidup sehari-hari Anda pun harus bersiap menghadapi pengeluaran berupa biaya perawatan dan pemeliharaan

- Siapkan diri menghadapi proses pencarian kredit yang panjang dan merepotkan, sementara besarnya biaya pengikatan kredit lainnya pun akan menambah daftar kerepotan Anda, termasuk biaya pajak atau cadangan biaya untuk asuransi

- Jangan sekali-kali gunakan uang cicilan KPR untuk membiayai pengeluaran lain rumah tangga Anda! Ya, sekalipun hal itu Anda rasakan lebih penting. Harus diingat konsep “gali lubang, tutup lobang” itu hanya akan mendorong Anda berutang pada bank dan sekali saja Anda lakukan, selanjutnya Anda hanya akan tergiring ke dalam jurang kesulitan.

- Sudah lengkapkah persyaratan yang Anda butuhkan sebelum mengajukan KPR? Galibnya, semakin lengkap berkas persyaratan Anda, semakin besar pula peluang KPR Anda disetujui oleh bank.

Memilih Bank:
- Perdalam informasi atau data bank yang direkomendasikan oleh pengembang, khususnya pada informasi skema harga baik itu uang muka maupun angsurannya.

- Semakin rendah suku bunga semakin ringan pula pembiayaan Anda. Untuk itu, jika ingin menggunakan jasa bank pilihan sendiri, upayakan memilih bank dengan tingkat suku bunga terendah. Kisaran tingkat suku bunga kredit KPR saat ini antara 13,5 persen hingga 15 persen.

- Beberapa bank saat ini memberikan bunga tetap (fixed rate) selama satu atau dua tahun. Maka, usahakan memilih bank yang menerbitkan bunga tetap paling lama, karena semakin lama akan meringankan konsumen.

- Agar tidak berbelit di saat transaksi keuangan, usahakan memilih bank yang paling banyak Anda gunakan selama bertransaksi, semisal bank tempat Anda mengambil gaji, membuka kartu kredit, atau menabung. Semakin mengenal baik kreditasi calon konsumennya, semakin cepat bank mengurus dan meluluskan ajuan kredit Anda.

LTF

Categories: property Tags: , ,

Makin Banyak Orang Bisa Punya Rumah

Selasa, 17 Maret 2009 | 08:55

JAKARTA. Para pekerja yang ikut program Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) boleh bergembira. Mimpi untuk punya rumah sendiri dengan harga yang terjangkau bisa menjadi nyata.

PT Jamsostek berniat terus menambah dananya di Bank Tabungan Negara (BTN). Penambahan dana itu bertujuan mendukung pembiayaan perumahan bagi masyarakat menengah ke bawah.

Direktur Investasi Jamsostek Elvyn G. Masassya menyatakan, penempatan dana Jamsostek di BTN saat ini sudah mencapai Rp 1,9 triliun. “Penambahan dana nanti sangat tergantung pada dana investasi baru, batas alokasi investasi ke perbankan, dan program yang dijalankan BTN,” ujar Elvyn.

Dalam kesepakatan awal, Jamsostek berkomitmen menyalurkan dana ke BTN sebesar Rp 1 triliun. Hingga akhir tahun 2008, penyaluran dana yang terealisasi sudah mencapai Rp 700 miliar. Berarti sudah ada penambahan sekitar Rp 1,2 triliun pada tiga bulan pertama tahun 2009 ini.

Deputi Perumahan Formal Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Zulfi Syarif Kotto juga menjelaskan bahwa setoran dana Jamsostek itu akan digunakan sebagai subsidi untuk pemberian Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) bagi para anggota Jamsostek.

Di musim kering likuiditas seperti sekarang, kerjasama ini jelas menguntungkan BTN. Dana segar dari Jamsostek bisa mendukung pembiayaan perumahan bagi masyarakat menengah ke bawah. Sekaligus mendukung program Gerakan Nasional Pengembangan Sejuta Rumah (GNPSR).Dus, dana tersebut mampu menopang pendanaan BTN dalam menyaluran KPR.

Wakil Direktur Utama PT BTN Evi Firmansyah pun menandaskan bahwa dana Jamsostek tersebut akan dipakai untuk memberikan subsidi penyaluran KPR. “Kami bisa menggunakan dana Jamsostek sebagai subsidi uang muka atau subsidi bunga kredit,” imbuh Evi.

Arthur Gideon, Yohan Rubiyantoro KONTAN

Categories: property Tags: , , ,

Pemerintah dan BI Giat Kucurkan KPR

February 13, 2009 chris'Gallery Leave a comment
Jumat, 13 Februari 2009 | 07:33

JAKARTA. Industri properti mendapat angin surga. Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) sepakat mendorong perbankan agar makin giat mengucurkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Dan ada Surat Keputusan Bersama (SKB) untuk kebijakan itu.

Penandatanganan SKB itu berlangsung Kamis (12/2), kemarin, oleh Gubernur Bank Indonesia Boediono, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Menteri Negara Perumahan Rakyat (Menpera) Mohammad Yusuf Asya’ari. Intinya, ketiga pejabat akan membentuk Tim Koordinasi Kebijakan Pengembangan Pembiayaan Perumahan.

Yusuf Asya’ari ingin BI melonggarkan formula penghitungan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) untuk KPR bersubsidi. Kalau sekarang itu masih 40%, dia meminta turun menjadi 20%.

Pertimbangannya, KPR bersubsidi adalah program pemerintah seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) karena itu tingkat risikonya lebih kecil. Kalau BI setuju, bank bisa lebih giat menyalurkan KPR bersubsidi, karena rasio kecukupan modal atawa Capital Adequacy Ratio (CAR) bank tak cepat tergerus.

Menteri Keuangan Sri Mulyani yakin, kelonggaran kebijakan BI di sektor perumahan akan membawa dampak positif ke sektor lain. “Bisa membuka lapangan kerja lebih banyak,” ungkapnya.

Deputi Gubernur BI Muliaman D. Hadad mengaku BI tak berkeberatan. “Saat ini kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) KPR sudah relatif kecil,” ungkap Muliaman. Tapi, akan lebih baik jika ada penanganan risiko secara khusus bagi KPR, seperti halnya keberadaan lembaga penjaminan kredit dalam penyaluran KUR.

Lagipula, BI melihat persoalan KPR bukan semata pada ATMR saja, melainkan juga pada struktur pendanaan bank. Saat ini, sebagian besar dana yang terkumpul di tabungan, giro, dan deposito bank berjangka pendek. Bank bisa mengalami kesulitan likuiditas kalau harus mendanai KPR yang berjangka waktu antara 5 hingga 15 tahun.

Karena itu, Boediono akan lebih fokus mempermudah bank agar mau melakukan sekuritisasi aset, alias menggadaikan aset KPR mereka. “Ini bisa menambah kapasitas sumber pembiayaan bagi industri perbankan,” tuturnya.

Boediono melihat saat ini nilai KPR di bank yang bisa dijadikan sumber dana cukup besar. Hingga Desember 2008 KPR mencapai Rp 122 triliun sedang kredit untuk pengembang mencapai Rp 28 triliun.

Persoalan lain yang tak kalah pelik, perbankan kita masih belum efisien sehingga bunga masih mahal. Saat ini nasabah KPR harus membayar bunga antara 13%-19% setahun. Bahkan, Bank BTN, penyalur 95% KPR bersubsidi, juga sempat menaikan bunga bagi nasabah lama dari 14,75% jadi 15% per Januari 2009 di tengah tren menurunnya bunga. Jadi? Semoga kesepakatan itu bukan cuma sekadar angin surga.

Arthur Gideon, Ade Jun Firdaus KONTAN

Awal 2009 Momentum Beli Properti

February 12, 2009 chris'Gallery Leave a comment

Jakarta (ANTARA News: 11/02/09 20:04) – Perusahaan konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL) memprediksikan awal tahun 2009 sebagai momentum tepat berinvestasi di bidang properti baik jangka pendek maupun untuk jangka penjang.

“Hasil riset kami sektor perkantoran, pusat perdagangan, dan apartemen sesuai siklus waktu tepat dibeli awal tahun 2009,” kata Kepala Divisi Riset JLL Anton Sitorus di Jakarta, Selasa.

Menurut Anton, untuk mengetahui apakah sekaranag waktu yang tepat dapat dilihat dari perkembangan harga sewa untuk sektor perkantoran, pusat belanja, dan apartemen dalam dua tahun terakhir.

“Harga sewa setelah mengalami penurunan tahun 2008, saat ini posisinya mulai membaik serta diperkirakan masih ada jeda waktu ke depan sebelum booming sehingga ada kesempatan meraih gain (keuntungan),” tuturnya.

Sementara Chairman JLL, Lucy Rumantir, mengatakan, ada dua tipikal investor properti, jangka pendek yang akan melepas saat booming nanti, serta jangka panjang dengan menyewakan sampai jangka waktu tertentu sebelum dilepas (dijual).

“Mereka (investor) punya strategi tersendiri untuk melepas properti yang dibelinya tergantung kepada sektor serta tujuan investasi tinggal investor harus jeli dalam memilih proyek,” katanya.

Sebaiknya membeli properti yang dibangun pengembang yang memiliki reputasi yang baik, setidaknya dalam track recordnya berhasil mendongkrak harga jual dalam kurun waktu tertentu seraya menyebut salah satu pengembang di kawasan Kelapa Gading.

Kiat untuk memilih pengembang semacam itu dapat dilihat dari rekam jejak (track record) di antaranya dari segi spesifikasi dan kualitas apakah sudah sesuai dengan apa yang dijanjikan saat menjual produk, jelasnya.

Kemudian janji serah terima apakah selama ini tepat waktu ataukah sering ingkar bahkan pernah dipinalti, serta terakhir harus dilihat juga apakah selama ini konsisten menjalankan master plan proyeknya, rinci Lucy.

Dia juga mengingatkan, dalam membeli properti jangan terbujuk rayu terhadap potongan harga yang ditawarkan tetap yang menjadi pertimbangan kapan proyek selesai agar jangan sampai kehilangan momentum.

Sebaiknya membeli proyek yang sudah 50 persen berjalan karena dipastikan jangka waktu serah terima tidak akan meleset dari perkiraan, jelasnya.
(*)

COPYRIGHT © 2009

Pengembang Mulai Kena Kredit Macet

December 1, 2008 chris'Gallery 2 comments

JAKARTA. (Kontan, Senin, 1 Desember 2008 | 8:34) Mimpi buruk para pengembang mulai datang. Setelah tak bisa melanjutkan proyek perumahan tahun depan, kini pengembang mulai dihantui bayang-bayang kredit konstruksi yang macet. Dengan suku bunga pinjaman 15% – 18% dan BI rate 9,5%, pengembang mengaku mulai kesulitan mengangsur kredit konstruksi ke bank.

Sudah begitu, sejak dua pekan lalu, bank menghentikan kucuran kredit konstruksi. Makanya, beberapa pengembang berhenti mengerjakan proyek perumahan. “Saat ini, penurunan pasar rumah susun sederhana milik (rusunami) dan rumah sederhana sehat (RSh) sebesar 50%. Ini mengancam pembangunan 150.000 unit perumahan non subsidi,” kata Wakil Ketua REI Bidang Rusunami, Muhamad Nawir, Jumat (28/11).

Sudah begitu, pengembang tetap harus membayar cicilan bunga konstruksi ke bank. Tentu saja, ini menggerus modal pinjaman dari bank, termasuk modal sendiri. Karenanya, pengembang mulai megap-megap membayar cicilan. Nawir memperkirakan, saat ini, tingkat kredit macet di sektor properti sudah mencapai Rp 5 triliun. “Ini dari estimasi proyek yang sedang jalan di 2008,” tandasnya.

Sejauh ini, bank sudah mengucurkan total kredit konstruksi sekitar Rp 120 triliun. Jumlah itu meliputi 20.000 apartemen, 50.000 rusunami, dan 100.000 RSh. “Yang paling menderita tentu saja segmen bawah yang nonsubsidi. Di sinilah kredit mulai macet,” kata Nawir.

Pengamat Properti Ali Tranghada memprediksi, apabila pemerintah tidak segera menurunkan BI rate ke level 8%, nilai kredit macet alias non-performing loan (NPL) di 2009 bakal meningkat hingga 8% dari perkiraan semula 3,2 %. “Artinya, kredit yang macet di 2009 bisa mencapai Rp 8 triliun,” katanya.

Ketua Dewan Pimpinan Pusat Real Estate Indonesia (DPP REI) Teguh Satria tampak belum terlalu gundah dengan perkiraan kredit macet itu. Ia masih optimistis, tahun depan, jumlah NPL tidak akan bertambah. Ia yakin pemerintah akan menurunkan suku bunga pada Desember 2008. Pengembang masih bisa bertahan. “Kondisi permodalan pengembang jauh lebih baik ketimbang krisis ekonomi 10 tahun lalu,” tandasnya.

Kendati begitu, pengembang kembali mendesak pemerintah segera menurunkan suku bunga BI menjadi 8%. Pasalnya, pengembang rusunami kelas bawah sudah tidak bisa berbuat banyak. Mereka juga sudah menghemat pengeluaran dan merumahkan pekerja. “Paling lambat, pemerintah harus menurunkan suku bunga di Januari 2009. Jika tidak, para pengembang kelompok ini akan bangkrut,” kata Ali Tranghanda.

Gara gara krisis, target penjualan properti nasional 2008 cuma Rp 35 triliun, turun 12,5% dari target semula sekitar Rp 40 triliun. Sepertinya, efek bola salju dari krisis masih terus berlanjut ke sektor properti.