Archive

Archive for the ‘investment’ Category

Mengamati Reksadana Layak Beli Tahun Depan

December 24, 2008 chris'Gallery Leave a comment

JAKARTA. (Kontan: Rabu, 24 Desember 2008 | 14:14) – Bagaimana peluang industri reksadana tahun depan? Para manajer investasi (MI) memperkirakan, tahun 2009 pertumbuhan industri reksadana bakal melambat. Direktur PNM Investment Management Wawan Dewanto bilang, ini adalah siklus bisnis yang tak terelakkan menyusul goyahnya sistem perekonomian dunia akibat empasan badai krisis keuangan global.

Wawan menghitung, pada 2006 jumlah reksdana tumbuh 23% dibandingkan 2005. Tapi, tahun 2008, pertumbuhannya hanya 16%, dan tahun 2009 bakal lebih rendah lagi. Perlambatan juga menimpa total nilai aktiva bersih (NAB). Tahun 2007, NAB reksadana tumbuh 78% ketimbang 2006. Namun, di tahun 2008, hingga pertengahan Oktober, terjadi penurunan NAB sekitar 22%.

Meski pertumbuhan dana kelolaan reksadana bakal melambat, para MI yakin di tahun 2009 reksadana masih bisa memberikan keuntungan yang lumayan, baik buat investor maupun MI. Syaratnya, investor dan MI mesti pintar-pintar memilih produk reksadana yang pas.

Lantas, rekasadana seperti apa yang diprediksi bakal unjuk gigi tahun depan? Para MI kompak menunjuk reksadana terproteksi. Alasan mereka sederhana. Pada situasi pasar yang tidak menentu, investor lebih memilih berinvestasi di instrumen yang aman dan mampu menjamin keberadaan asetnya.

Investor dengan profil risiko rendah dan moderat diperkirakan bakal memburu reksadana terproteksi yang risikonya rendah. Adapun investor dengan profil risiko tinggi masih bisa memilih reksadana saham dan reksadana pendapatan tetap yang tingkat fluktuasinya lebih besar. Karena itulah, MMI mengaku masih akan fokus menerbitkan reksadana proteksi pada tahun depan.

Kepala Biro Pengelolaan Investasi Bapepam-LK, Djoko Hendratto juga meramal, reksadana terproteksi masih bakal berjaya tahun depan. “Kalau reksadana saham masih akan tertekan,” kata Djoko.

Ewo Raswa, Avanty Nurdiana, Yuwono Triatmodjo KONTAN

Saat Memilih Rumah, Jangan Abaikan Faktor Lokasi (1)

November 4, 2008 chris'Gallery Leave a comment

Selasa, 4 November 2008 | 16:20 WIB

Pertimbangan Pemilihan Lokasi

Membeli rumah memang selalu harus dengan beberapa pertimbangan. Salah satu yang cukup penting adalah pertimbangan lokasi.

Setiap orang tentunya menginginkan rumah sebagai tempat tinggal untuk menetap hingga usia tua. Agar rumah dapat digunakan terus menerus dan dapat memberikan kenyamanan, maka dalam mencari rumah harus benar-benar teliti dan seksama.

Teliti dalam mencari rumah tidak berarti hanya memperhatikan segi fisik rumah seperti menentukan spesifikasinya. Namun, teliti juga berarti mempertimbangkan segi non fisik, misalnya saja menyesuaikan anggaran dengan rumah yang diinginkan.

Setelah merencanakan serta menyediakan anggaran dan menentukan tipe rumah, tahap berikutnya adalah menentukan lokasi rumah. Ini merupakan tahap penting yang termasuk dalam pertimbangan non fisik ketika akan membeli rumah. Lokasi yang tepat mampu memberikan kenyamanan selama Anda menghuni rumah dan mempermudah Anda ketika akan menjual rumah tersebut nantinya.

1. Dekat Tol Lebih Bernilai

Oleh pengembang, biasanya pertimbangan lokasi rumah digunakan sebagai “senjata” untuk memasarkan sebuah rumah. Hal ini dapat dilihat pada brosur penawaran yang dibagikan oleh pengembang saat menjual rumah barunya. Di setiap brosur, para pengembang pasti tidak lupa menulis kata-kata yang bernada optimis bahwa rumah yang ditawarkan dekat dengan berbagai fasilitas, seperti “Lokasi mudah dicapai. Hanya 5 menit dari gerbang tol”. Walaupun tatanan kalimatnya tidak sama, hampir semua pengembang menulis kalimat yang intinya menawarkan rumah dengan iming-iming lokasi yang mudah dijangkau.

Lokasi rumah, khususnya perumahan baru, biasanya terletak jauh dari pusat kota. Sebagai contoh, rumah-rumah baru di sekitar Jabodetabek, umumnya berada jauh dari sentral kota seperti Jakarta. Akan tetapi jarak yang jauh ini dipermudah dengan akses penghubung yang cepat dan praktis seperti jalan tol, sehingga dapat memudahkan warganya untuk menuju lokasi tersebut. Karena itu perumahan yang lokasinya berada dekat dengan jalan tol memiliki daya tarik lebih besar bagi konsumen, karena berarti perumahan tersebut lebih mudah dijangkau.(Jaka Eko Cahyono-wartawan dan penulis buku/http://www.tabloidrumah.com)

2. Jangan Jauh dari Tempat Kerja

Lokasi rumah memiliki nilai tersendiri bagi konsumen, baik untuk dihuni sendiri, disewakan, atau untuk investasi. Karena itu pembeli harus mempertimbangkan lokasi dengan seksama sebelum memutuskan untuk membeli rumah. Pasalnya kemungkinan besar pembeli akan menggunakan rumah tersebut dalam jangka waktu lama. Ini berbeda dengan penyewa yang umumnya bersifat sementara dan bisa pindah sewaktu-waktu. Untuk itu, lokasi ini harus dilihat apakah mudah dicapai atau tidak.

Selain itu, lokasi rumah jangan sampai terlalu jauh dari tempat kerja Anda. Bisa dibayangkan apabila jarak rumah Anda jauh, berapa lama waktu yang Anda butuhkan setiap harinya untuk pergi-pulang dari rumah menuju tempat kerja Anda? Jarak yang jauh juga akan menambah pos pengeluaran keuangan Anda untuk konsumsi bahan bakar jika mengendari kendaraan pribadi.

Bagi penyewa rumah, lokasi berkaitan dengan fungsi sumber kenyamanan. Ini dapat menggambarkan mengapa banyak orang memilih menyewa apartemen di tengah kota, meski secara finansial ia mampu membeli rumah tetapi di pinggir kota. Bahkan banyak orang memilih menyewa rumah di kota dan menyewakan rumahnya sendiri yang ada di wilayah lain.

Jika Anda membeli rumah untuk berinvestasi, pertimbangan lokasi tidak kalah pentingnya. Pemilihan lokasi dapat menentukan hasil keuntungan yang bisa dicapai. Sebagai contoh kasus, di beberapa lokasi, kenaikan harga tanah dan rumah di suatu wilayah lebih tinggi daripada di wilayah lain. Tentu saja ada faktor lain yang menyebabkan kenaikan harga selain lokasi yang menguntungkan, seperti kondisi ekonomi secara umum dan laju pertambahan penduduk.

Sejak jaman Romawi kuno, rumah juga digunakan sebagai sarana untuk investasi. Agar bisa mendapatkan lokasi yang tepat, sebaiknya Anda meluangkan waktu yang memadai untuk mencari. Berpikiranlah terbuka untuk melihat tipe-tipe rumah idaman di beberapa lokasi sebelum menyempitkan pencarian ke lokasi tertentu. Selama mencari, Anda mungkin melihat puluhan atau bahkan ratusan unit rumah di pasaran.

Gunakan hal ini sebagai peluang menemukan pilihan. Harga yang diminta penjual tidak selalu mencerminkan nilai sebuah rumah. Namun biasanya, rumah dengan nilai yang bagus lebih cepat laku. Sedangkan rumah yang sulit terjual seringkali ditawarkan dengan harga yang terlalu tinggi.

3. Kondisi Sosial

Setelah lokasi ditentukan dan mengecek kondisi fisik rumah, sebaiknya Anda juga mengetahui kondisi lingkungan sosial di lokasi rumah yang Anda pilih. Jangan sampai Anda nanti membeli rumah di lokasi yang membuat Anda merasa tidak aman dan nyaman karena lingkungannya tidak “sehat”. Sebaiknya, Anda perlu mengecek secara menyeluruh lingkungan tersebut dan tidak hanya mengandalkan informasi lokasi rumah dari iklan, brosur promosi, atau agen properti.

Bagaimana caranya mengecek? Anda dapat mengunjungi kembali lingkungan rumah yang Anda incar pada hari yang berbeda dan waktu yang berbeda. Jika saat ini mengunjungi pada siang hari, besoknya Anda mengunjungi lagi pada malam hari. Ketuk pintu beberapa calon tetangga dan tanyai mereka tentang kondisi lingkungan sosial sekitarnya. Bila Anda akan menyewa, ada baiknya berbicaralah kepada pihak penyewa. Karena tidak mempunyai kepentingan jangka panjang di wilayah itu, penyewa akan memberi informasi secara lebih terbuka.

Meskipun Anda sudah mengetahui kondisi lingkungan dan memutuskan untuk membeli rumah di wilayah tersebut, yakinkan juga Anda melihat pilihan rumah yang lain di wilayah tersebut. Jika Anda mengalokasikan Rp 200 juta untuk sebuah rumah, lihat rumah yang ditawarkan lebih mahal yang ada di sekitarnya. Siapa tahu Anda hanya perlu mengeluarkan sedikit lebih banyak untuk mendapatkan fasilitas yang jauh lebih tinggi nilainya.

(Jaka Eko Cahyono-Wartawan dan penulis buku/http://www.tabloidrumah.com)

Categories: investment Tags: , ,

Saat Memilih Rumah, Jangan Abaikan Faktor Lokasi (2)

November 4, 2008 chris'Gallery Leave a comment

Selasa, 4 November 2008 | 16:20 WIB

Pertimbangan Pemilihan Lokasi

Agar Anda tidak bingung dalam menentukan lokasi rumah yang cocok dan pas untuk Anda, berikut ini beberapa pertimbangan yang dapat digunakan.

1. Nilai rumah

Fungsi rumah yang tercermin dari lokasi akan berefek pada harga jual. Semakin banyak fungsi rumah maka harganya semakin tinggi. Pertimbangan di sini adalah apakah harganya sudah mencerminkan nilai dan manfaat yang akan Anda peroleh. Alangkah sayangnya kalau Anda membeli rumah di lokasi dengan berbagai fasilitas tetapi Anda menghabiskan seluruh waktu di tempat kerja. Atau rumah yang Anda beli mahal, hanya ditempati sekali sebulan atau pada akhir pekan saja.

2. Fasilitas pendidikan (sekolah)

Mempunyai anak atau tidak, Anda perlu peduli tentang masalah ini. Pasalnya, umumnya orang tua akan peduli masalah ini dan mereka memberi penghargaan pada kualitas sekolahan. Fasilitas sekolah harus dekat dengan tempat tinggal Anda. Jangan sampai putera-puteri Anda capai di jalan sehingga tidak bisa berkonsentrasi belajar.

Selain itu, penghargaan atas mutu sekolah akan mempunyai dampak langsung pada nilai properti di sekitar sekolahan tersebut. Maka tidak heran kalau banyak pengembang membangun sendiri fasilitas pendidikan, atau bekerjasama dengan pengelola sekolahan swasta. Para pengembang menilai bahwa sebuah sekolahan di sebuah kawasan atau kompleks perumahan dapat menarik minat pembeli.

3. Feng Shui rumah

Dalam membeli rumah, tidak ada kata terlalu hati-hati. Sedapat mungkin hindari atau kurangi risiko salah pilih. Salah satu caranya adalah dengan mempertimbangkan hal yang bersifat tradisional dan kurang konvensional, seperti Feng Shui. Anda boleh tidak percaya pada Feng Shui, tetapi sebagai pembeli Anda perlu peduli. Pasalnya, mereka yang percaya pada Feng Shui akan menentukan jumlah permintaan dan penawaran. Bila rumah Anda memenuhi kaidah Feng Shui, maka tidak heran bila ketika menjual kembali pasti sudah banyak orang yang menaksir rumah Anda.

4. Aspek perpajakan

Transaksi tanah atau bangunan merupakan obyek pajak. Selanjutnya sebagai pemilik tanah dan bangunan Anda akan dikenai Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Oleh karena itu pertimbangkan aspek perpajakan untuk mengetahui berapa besar pengeluaraan tambahan Anda baik pada saat membeli maupun untuk membayar pajak setiap tahunnya (PBB).

5. Perkembangan masa depan

Sebelum membeli, ada baiknya Anda mengetahui pola perkembangan baru atau renovasi besar yang akan atau sedang dilakukan di wilayah lokasi rumah tersebut. Hal ini untuk memprediksi pembangunan apa yang akan dilakukan di sekitar lingkungan lokasi rumah Anda. Untuk itu Anda dapat mengecek ke Dinas Tata Ruang Kota atau pejabat lain yang berwenang.

6. Resiko bencana

Apakah lingkungan lokasi rumah yang akan dibeli mudah terserang bencana banjir, kebakaran, atau tanah longsor? Jika rumah Anda masuk ke dalam lokasi yang rawan akan bencana, lebih baik Anda mengurungkan niat Anda untuk membeli rumah itu. Memang Anda dapat mengasuraikan rumah Anda untuk melindungi secara finansial dari bencana ini. Namun, Anda juga harus mempertimbangkan bagaimana mengatasi bencana secara emosional. Asuransi hanya meringankan penderitaan finansial dari kehilangan rumah, tetapi bagaimana meringankan perasaan Anda?

7. Tingkat hunian

Bila Anda membeli rumah yang lokasinya di dalam perumahan, perhatikan apakah semua rumah sudah terisi semua atau belum. Bila rumah-rumah di lokasi itu banyak yang kosong, harap Anda waspada. Bisa jadi kekosongan rumah terjadi karena lingkungannya kurang bagus atau karena ada potensi resiko tertentu. Maka, setidaknya pilihlah lokasi yang tingkat huniannya diatas 50%.

Semua pertimbangan diberikan agar Anda tidak salah langkah. Namun, semua pilihan lokasi diserahkan kepada Anda.

(Jaka Eko Cahyono-Wartawan dan penulis buku/http://www.tabloidrumah.com)

Categories: investment Tags: , ,

Rumah Sebagai Pos Pengeluaran (2)

October 7, 2008 chris'Gallery Leave a comment
Selasa, 7 Oktober 2008 | 09:20 WIB

Sesuaikan dengan Anggaran Keuangan

Bank—selaku pemberi KPR—umumnya mensyaratkan jumlah cicilan tidak lebih dari 30 persen dari penghasilan Anda. Jumlah cicilan sebagai pengeluaran ini sifatnya tetap (dengan asumsi bunga KPR tetap) sampai cicilan tersebut lunas.
Bagaimana bila dengan anggaran sebesar itu, Anda tidak dapat memperoleh rumah yang memenuhi kebutuhan dan sesuai selera? Sebaiknya bersabarlah dan bekerjalah lebih keras agar penghasilan Anda meningkat. Setelah penghasilan naik barulah Anda bisa meningkatkan kualitas rumah Anda. Memaksakan diri membuat pengeluaran untuk rumah lebih besar dari yang selayaknya, dapat berakibat serius. Hal ini karena pengeluaran untuk rumah mempengaruhi anggaran untuk keperluan lain. Kalau pengeluaran Anda untuk rumah lebih dari 30%, maka bisa dikatakan bahwa Anda hidup mewah.
Jika Anda tidak mampu menekan pengeluaran yang lain, maka pengeluaran untuk rumah yang dipaksakan dapat memperburuk kesehatan keuangan Anda. Membeli rumah dengan fasilitas KPR, dapat menambah alokasi anggaran untuk rumah menjadi besar, sehingga mempengaruhi kemampuan Anda untuk membayar cicilan KPR. Seperti terjadi selama krisis moneter, puluhan ribu debitur KPR tidak mampu memenuhi cicilannya dan terpaksa menjual kembali rumahnya beberapa tahun setelah pembelian. Mereka rugi karena kenaikan harga rumah belum menutupi biaya yang dikeluarkan untuk membeli rumah tersebut.
Banyak kasus menunjukkan bahwa calon pembeli rumah didorong oleh pengembang atau bank untuk membeli rumah di luar kemampuan mereka. Akibatnya, rumah yang mereka beli berubah menjadi beban finansial. Hal ini terlihat misalnya dari berita bahwa pada akhir Desember 1997 ada sekitar 30.000 debitur KPR BTN menunggak cicilan. Jumlah penunggak KPR tentu lebih banyak lagi kalau ditambah dengan debitur KPR di bank-bank lain. Berita tersebut menunjukkan bahwa pembeli rumah tidak mempunyai dana cadangan yang memadai sehingga dalam hitungan bulan, mereka sudah menunggak cicilan.
Memanfaatkan Dana Cadangan
Apabila Anda sudah mengambil cicilan KPR, maka usahakan untuk membuat dana cadangan. Walaupun nilainya kecil, usahakan setiap bulan menyisihkan penghasilan untuk dimasukkan ke dalam dana cadangan.
Dana ini berfungsi sebagai “ban serep” kalau ada kesulitan ekonomi, kebutuhan mendadak, atau menghadapi masa-masa sulit lainnya. Tanpa dana cadangan ini kesulitan ekonomi yang sifatnya temporer bisa berkembang menjadi masalah besar. Dengan membuat pengeluaran untuk rumah tidak terlalu tinggi, Anda bisa menikmati beberapa manfaat. Antara lain Anda bisa menyisihkan dana cadangan lebih banyak. Tanpa membuat simpanan cadangan Anda telah memilih gaya hidup tinggi. Padahal, sekali individu atau rumah tangga terbiasa dengan standar hidup dan pola konsumsi, akan sulit baginya untuk menurunkan standar dan mengubah pola.
Agar Mudah Mengalokasikan Pendapatan
1.Catat pengeluran setiap periode. Jumlah yang dibelanjakan periode sebelumnya merupakan indikasi pengeluaran bulan berikutnya. Gunakan catatan ini sebagai acuan untuk membuat rencana anggaran.
2.Periode anggaran disesuaikan dengan periode penerimaan gaji. Kalau Anda dibayar per minggu, buat rencana anggaran mingguan.
3.Ingatlah tujuan jangka panjang. Alokasikan terlebih dulu pendapatan yang siap dibelanjakan (disposable income) untuk memenuhi kebutuhan pokok, seperti pangan, sandang, dan papan. Di luar itu, pengeluaran yang lain adalah masalah pilihan. Anda dapat menyimpan sisa pengeluaran sebagai dana cadangan.
(Jaka E. Cahyono – wartawan dan penulis buku/www.tabloidrumah.com)

Rumah Sebagai Pos Pengeluaran (1)

October 7, 2008 chris'Gallery Leave a comment
Selasa, 7 Oktober 2008 | 09:20 WIB
Membeli rumah membutuhkan perencanaan yang matang. Agar keuangan Anda aman nantinya, lihat dulu kondisi keuangan Anda secara menyeluruh.
Banyak orang merasa bahwa membeli rumah bukan persoalan sederhana. Hal ini wajar, karena ketika membeli rumah, orang tidak hanya mempertimbangkan kebutuhan, tetapi juga selera dan keinginan. Bagi banyak orang, rumah adalah sumber rasa aman dan nyaman. Sebagian masyarakat, khususnya yang sudah mapan secara ekonomi, menjadikan rumah sebagai simbol status, ukuran kemakmuran, dan sebagai sarana investasi. Apalagi bagi kaum perantau yang belum merasa berhasil jika belum mampu membeli rumah.
Selain kerumitan proses pembelian, masalah yang umum dihadapi pembeli rumah adalah mencocokkan antara kebutuhan, keinginan, dan selera, dengan dana yang tersedia. Pada umumnya kebutuhan atau keinginan orang melampaui kemampuan dananya. Bahkan banyak penduduk Indonesia, khususnya setelah krisis moneter, tidak mampu membeli rumah yang sekadar menawarkan fungsi sebagai tempat berlindung. Walaupun banyak tawaran dari pihak pengembang dengan harga murah, tetap saja banyak yang belum mampu.
Melihat hal ini, dapat dikatakan bahwa kebutuhan rumah merupakan sebuah kebutuhan yang perlu diperhitungkan dalam sebuah pendapatan dan pengeluran seseorang. Selain itu, kebutuhan rumah sebagai kebutuhan papan, memang harus diperhitungkan dalam perhitungan pengeluaran anggaran setiap bulannya.

Anggaran Rumah Tangga
Pengeluaran untuk rumah sebaiknya tidak dipisahkan dari anggaran belanja rumah tangga secara keseluruhan. Dari arti kata, anggaran adalah padanan dari kata budget dalam bahasa
Inggris. Kata budget berasal dari bahasa Jerman yang artinya adalah dompet kecil berisi uang yang siap dibelanjakan. Pada umumnya yang dimaksud dengan anggaran adalah rencana pengeluaran dana setiap waktu tertentu. Anggaran rumah tangga sendiri sebaiknya dibuat berdasarkan pada penghasilan yang siap dibelanjakan (disposable income).
Apa yang dimaksud dengan disposable income ? Penghasilan yang siap dibelanjakan atau disposable income adalah semua penghasilan yang diterima oleh setiap orang baik pegawai swasta maupun wiraswata setelah dipotong pajak dan pengeluaran rutin setiap bulan. Penghasilan ini tidak hanya dari gaji maupun laba usaha untuk pengusaha, tetapi dapat bersumber dari penghasilan lain seperti bonus, deviden, komisi, hasil sewa rumah, dan hibah.
Semua jenis penghasilan tersebut, dapat dipisah lagi menjadi dua, yaitu pendapatan yang dapat diandalkan ada atau tidaknya (dependable income) dan pendapatan yang tidak dapat diandalkan seperti bonus dividen, komisi, hadiah dan hibah. Bagi karyawan, gaji bulanan dan tunjangan hari raya adalah pendapatan yang bisa diandalkan. Kalau Anda mempunyai simpanan di bank, maka bunga simpanan adalah jenis pendapatan yang dapat diandalkan.
Seperti diketahui bahwa disposable income merupakan penghasilan yang sudah dikenai potongan pajak. Potongan pajak seringkali dilupakan oleh beberapa orang, sehingga mereka memahami bahwa semua pendapatannya bisa dibawa pulang. Seperti disyaratkan dalam Undang-undang Nomor 17/2000 tentang Pajak Penghasilan, pendapatan adalah termasuk obyek pajak. Peraturan ini tidak berlaku hanya untuk orang pribadi yang memperoleh penghasilan kurang dari Rp 2.880.000 pertahun.
Selanjutnya, besarnya tarif pajak tergantung pada jumlah Penghasilan Kena Pajak (PKP). Jumlah PKP merupakan jumlah penghasilan seseorang setelah dikurangi penghasilan tidak kena pajak (PTKP) sebesar Rp 2.880.000. Tarif pajak pendapatan untuk orang pribadi berkisar antara 5% sampai 35%, tergantung pada jumlah PKP yang diterimanya.

Seringkali orang menghadapi kenyataan bahwa penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan dan keinginannya. Kalau demikian, Anda perlu membuat skala prioritas. Untuk memaksimalkan manfaat dari uang yang Anda miliki, sebaiknya Anda membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Penuhi apa yang menjadi kebutuhan dan kendalikan keinginan. Untuk itu Anda membutuhkan anggaran sebagai pedoman bahwa Anda hidup dengan sarana yang ada dan tetap mempertimbangkan kebutuhan jangka panjang. Jika Anda mencatat anggaran ini, maka nantinya akan lebih mudah bagi Anda jika mencari pinjaman guna memperoleh pinjaman KPR.

(Jaka E. Cahyono – wartawan dan penulis buku/www.tabloidrumah.com)

Investasi Asset Properti dari PPA

October 7, 2008 chris'Gallery Leave a comment

Sebelum krisis keuangan global memberikan dampak tidak langsungnya ke negara kita, alangkah baiknya kita juga mengamankan diri dengan beberapa strategi dan pengamanan asset yang dimiliki. Salah satunya adalah berinvestasi di asset perumahan.

Berbeda dengan yang terjadi di negara Paman Sam dimana investasi perumahan didanai dengan subprime mortgage, investasi yang saya maksudkan adalah investasi dana tunai kita, bukan dengan pinjaman / pendanaan dari bank. Kalaupun ada pendanaan dari bank, beberapa pekan / bulan ke depan sepertinya juga sudah mulai mengambil kebijakan pengetatan pinjaman.

Sebenarnya ada asset menarik yang bisa dilirik, coba lihat di artikel :  November, PPA Lelang Aset Properti Tahap II.

Siapa tahu Anda menemukan asset (rumah, ruko, rukan, apartemen, villa atau yang lainnya) yang cocok untuk dijadikan investasi. God Bless U

Summarecon Ekspansi ke Bekasi

May 16, 2007 chris'Gallery 2 comments

Jakarta (ANTARA News: 16/05/07 14:20) – Perusahaan properti, PT Summarecon Agung Tbk, yang selama ini menggarap proyek real estate di Kelapa Gading dan Summarecon Serpong akan melebarkan sayapnya ke Bekasi dengan lahan sebesar 300 ha.

Pembangunan lahan di Bekasi akan dimulai pada awal tahun 2008 dengan jangka waktu 10 tahun, dengan setiap tahunnya sebanyak 25 ha lahan akan dibuka,” kata Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk, Johanes Mardjuki kepada pers usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di Jakarta, Rabu.

Ia mengatakan, mulai membaiknya perekonomian nasional membawa angin segar bagi industri properti untuk segera mempersiapkan diri dalam upaya memenuhi permintaan pasar.

Karena itu para pengembang properti berinisiatif untuk membuka lahan demi mencari pasar baru dan mengantisipasi permintaan konsumen, katanya.

Di Bekasi, lanjut Johanes Mardjuki, perseroan akan menginvestasikan dananya (investasi awal) sebesar Rp100 miliar untuk membangun infrastruktur seperti jalan raya, saluran dan jembatan.

Untuk itulah perseroan akan mempersiapkan dana “capex” (“capital expenditure”) 2007 sebesar Rp500 miliar, yang akan diperoleh dari perbankan sebesar Rp200 miliar dan dana internal sebesar Rp300 miliar, ucapnya.

Ditanya mengenai obligasi, menurut dia, perseroan melihat situasi pasar saat ini kurang menguntungkan, maka obligasi untuk sementara belum dilakukan.

Meski demikian untuk memenuhi kebutuhan dana itu, perseroan mendapat pinjaman dari Bank BCA sebesar Rp350 miliar dengan bunga cukup kompetitif sebesar 11,5 persen ketimbang obligasi dengan bunga yang lebih besar, katanya.

Perseroan juga akan terus memperkuat basis pendapatan dengan memperluas Mal Kelapa Gading dan pengembangan baru Summarecon Mal Serpong, ucapnya.

Proyek-proyek yang diluncurkan Summarecon sepanjang 2006-2007 khususnya di Kelapa Gading, ia mengatakan tetap menarik bagi masyarakat, meski kawasan tersebut sempat dilanda banjir.

Bahkan peluncuran kawasan hunian The Riviera Garden pasca banjir tetap menarik minat para pembeli, tegasnya.

Mengenai Summarecon Mal Serpong, menurut dia perseroan menawarkan “trade centre” kepada masyarakat dengan konsep sewa, tidak dijualbelikan, dan tenant yang dibangun sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Meski demikian profit pada tahun 2007 masih belum bisa dikatakan, namun untuk 2008 diperkirakan akan memberikan laba antara Rp40 miliar sampai Rp50 miliar, demikian Johanes Mardjuki.(*)

COPYRIGHT © 2007