Archive

Archive for the ‘industrial estate’ Category

Kavling Industri

August 7, 2008 chris'Gallery 1 comment

Banyak investor yang mulai melirik kembali Kawasan Industri Pulogadung (KIP). Bukan hanya lokasinya saja yang dekat dengan pusat pemerintahan, tetapi juga kemudahan akses ke bandara, pelabuhan Tanjung Priok dan infrastruktur lainnya yang turut mendukung.

Investor yang terlanjur meninggalkan KIP dan merelokasi usahanya ke daerah Cikarang dan sekitarnya harus berfikir ulang. Beberapa masalah yang sering dihadapi adalah:

  1. tenaga kerja
  2. trasportasi
  3. tempat tinggal bagi karyawan
  4. jangkauan ke lokasi distribusi terutama di Jakarta

Sebagai contoh tenaga kerja. Agak sulit untuk mendapatkan tenaga kerja berpengalaman seperti di Jakarta, belum lagi masalah gaji dan fasilitas pendukungnya.

Transportasi. Paling tidak perusahaan harus menyediakan kendaraan antar jemput untuk karyawan yang tinggal di Jakarta misalnya, untuk selanjutnya dijemput bersama dengan rombongan karyawan lainnya.

Tempat tinggal karyawan. Bagi mereka yang tinggal di dekat lokasi pabrik tidak menjadi masalah. Untuk yang tinggal di luar lokasi, harus disediakan mess atau rumah tinggal. Ini merupakan masalah baru diluar dari pekerjaan utamanya yang harus dilakukan.

Lokasi distribusi menjadi masalah baru. Paling tidak mereka harus punya lokasi di Jakarta untuk distribusi Jakarta misalnya. Belum lagi kalau harus dikirim ke luar Jawa melalui pelabuhan Tanjung Priok. Berapa besar biaya yang harus ditanggung apabila barang yang dikirim harus menginap dulu di pelabuhan. Biaya operasionalnya bisa membengkak.

Kesimpulan saat ini yang dapat diambil:

  1. Lokasi di KIP masih potensial untuk dilirik.
  2. Kavling yang tersedia juga tidak terlalu mahal, dibandingkan dengan biaya operasional yang harus dikeluarkan.
  3. Kecepatan akses dan distribusi masih bisa dipertimbangkan.

eof.

Lokasi KIP

Kawasan Industri Pulogadung (KIP) mempunyai lokasi yang cukup (bisa dibilang sangat) strategis. Sebuah kawasan industri di dalam kota. Potensinya sangat luar biasa. Namun apabila tidak diberdayakan, potensi yang ada hanya sia-sia belaka.

Memetik filosofi coca cola.

Coca cola dalam bentuk botol dijual di pedagang kaki lima, di rumah makan ataupun di cafe. Barangnya sama, cuma lokasi penjualannya yang berbeda. Hanya sedikit yang membedakan, yaitu cara penyajiannya, hal ini karena dari masing-masing lokasi penjualan ada tata cara penyajiannya. Tapi yang jelas, dengan sedikit memindahkan atau dengan memilih tempat penjualannya akan berpengaruh terhadap harga jual.

Apa yang terjadi dengan KIP yang dikelola JIEP. Apakah tidak seperti contoh coca cola tersebut. Ini menjadi PR yang cukup menantang untuk dipecahkan oleh pengelola. Dan yang pasti… buah dari upaya tersebut akan mempengaruhi kondisi perekonomian, baik JIEP sebagai pengelola maupun stakeholder yang ada di lingkungan JIEP.

Semoga.