Archive

Archive for the ‘economic’ Category

Obama Ramalkan “Bulan-bulan Penuh Kesulitan Ekonomi”

February 2, 2009 chris'Gallery Leave a comment

Washington (ANTARA News: 02/02/09 07:39) – Presiden Barack Obama, Minggu, menyatakan ia memperkirakan beberapa “bulan-bulan mendatang” merupakan masa yang penuh kesulitan bagi ekonomi AS dan mendesak dukungan dua partai atas rencana stimulus ekonomi yang akan diajukan ke Senat pekan ini.

“Saya kira kita akan mengalami bulan-bulan yang penuh kesulitan. Kita harus mengesahkan rencana pemulihan ekonomi ini. Kita akan mulai menempatkan orang-orang kembali bekerja,” kata Obama dalam wawancara dengan televisi NBC.

“Saya merasa yakin kita akan mampu mengembalikan ekonomi ke jalurnya,” katanya, seperti dilaporkan AFP.

Senat akan membahas paket stimulus senilai 819 miliar dolar Senin ini, dengan kubu Republik memperingatkan paket tersebut akan menghadapi oposisi, kecuali jika mereka melihat berbagai perubahan pada fokusnya mengenai pengeluaran bagi infrastruktur dan jaringan keamanan sosial.

Obama mengemukakan dirinya telah mendekati kubu Republik dalam upaya meraih dukungan bagi paket itu. (*)

COPYRIGHT © 2009

World Economic Forum Tak Memberi Jawaban untuk Krisis Global

February 2, 2009 chris'Gallery Leave a comment

DAVOS (Kontan Online: Senin, 2 Februari 2009 | 13:10). Pertemuan lima hari World Economic Forum di Swiss nyatanya gagal untuk mendapatkan jalan lapang dan terang untuk memulihkan kembali perekonomian global. Saat mengakhiri pertemuan tersebut, rasanya sama seperti saat mengawali pertemuan di hari pertama. Yaitu, dalamnya krisis global tidak bisa diprediksi kapan akan berakhir dan solusi atas kondisi itu juga sukar ditangkap.

“Setiap orang “tersesat” di Davos,” kata Kishore Mahbubani dari Lee Kuan Yew School of Public Policy di Singapore. Menurutnya, tidak ada satupun yang terlihat mengerti dengan jelas seberapa besar krisis ini dan apa yang harus dilakukan untuk keluar dari krisis ini.

“Pandangan saya, kita harus melakukan pemeriksaan ulang secara fundamental atas sistem global untuk mengetahui sisi mana yang keliru. Tidak ada satu orang pun di sini yang siap untuk mengajukan pertanyaan yang mendasar ini di Davos,” imbuhnya.

Ada kesepakatan yang meluas bahwa ada banyak hal yang harus dikerjakan, mulai pertemuan G20 bulan April di London.

“Saat ini, kerja keras dimulai,” kata pendiri forum ini, Klaus Schwab. Ia meminta untuk mendesain ulang sistem global perbankan, regulasi keuangan dan juga pemerintahan.

Schwab memperingatkan, bahwa kemungkinan pertemuan G20 juga tidak akan menyelesaikan permasalahn ini. Karenanya, Schwab mengumumkan bahwa dalam beberapa minggu ke depan forum ini akan memulai “Global Redesign Initiative” yang akan didukung oleh hampir semua pemimpin yang mendatangi forum di Davos tersebut.

Femi Adi Soempeno AP

Stiglitz : Pinjaman IMF Justru Lemahkan Negara yang Dibantu

January 28, 2009 chris'Gallery Leave a comment

surfrider300x250_4-edit1Paris,  (ANTARA News: 28/01/09 07:35) – Ekonom peraih penghargaan Nobel Joseph Stiglitz, Selasa mengingatkan bahwa pinjaman yang dilakukan Dana Moneter Internasional (IMF) semakin membebani perekonomian negara yang seharusnya dibantu untuk mencari jalan keluar, sehingga yang terjadi adalah pengulangan kesalahan IMF seperti yang dibuat saat krisis keuangan Asia tahun 1997.

“Mereka membuat kesalahan yang sama seperti saat melakukannya di tahun 1997,” kata Stiglitz, mantan Kepala Ekonom Bank Dunia kepada pers di Paris, dengan merujuk pada pinjaman IMF yang diberikan kepada Islandia, Pakistan dan Ukraina yang tengah mengatasi krisis keuangannya.

Suku bunga pinjaman IMF terlalu tinggi dan kebijakan moneter yang dibebankan kepada negara-negara yang menderita krisis kontradiktif, sebaliknya kebijakan ekonomi ekspansif diterapkan di Inggris atau Prancis, kata dia.

“Dana pinjaman dengan persyaratan ini kemungkinan akan melemahkan perekonomian dan puncaknya membuat negara-negara semakin sulit membayar kembali dana pinjamannya itu,” kata Stiglitz, yang di Paris akan memperomosikan dokumentasi baru yang disebutnya “Menjelajah Dunia bersama Joseph Stiglitz.”

Stiglitz mengingatkan bahwa kebijakan IMF di Pakistan justru dapat meningkatkan dukungan kepada milisi Taliban dan mengatakan bahwa lembaga keuangan internasional itu menyusahkan demokrasi dengan membatasi pemerintah yang diberi dana pinjaman itu.

Stiglitz yang telah memenangkan hadiah Nobel bidang Ekonomi tahun 2001 menjadi pengkritik yang vokal terhadap IMF, dan menuduh IMF hanya mengejar kebijakan pasar bebas yang justru menyulitkan negara-negara berkembang.

Dalam beberapa pekan lalu, IMF telah megalokasikan dana pinjaman senilai 16,4 miliar dolar AS kepada Ukraina, sebesar 7,6 miliar dolar AS kepada Pakistan dan sebesar 2,1 miliar dolar AS kepada Islandia untuk membantu negara-negara itu dalam mengatasi dampak krisis ekonomi global.(*)

COPYRIGHT © 2009

Memahami Kredit Subprime

January 22, 2009 chris'Gallery Leave a comment
Kontan Online: Jumat, 27 Juni 2008 | 15:32

Belakangan ini, para investor global terus was-was menyaksikan indikator-indikator pasar modal yang terus bergejolak. Di Jakarta, Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) bisa naik-turun 1%-3% dalam sehari bak roller coaster. Sumber gonjang-ganjing ini tak lain adalah krisis kredit pemilikan rumah (KPR) subprime yang ada di Amerika Serikat (AS). Nah, apakah KPR subprime itu?

SEBELUM membahas lebih detail tentang KPR subprime, kita perlu tahu bahwa Amerika Serikat (AS), Kanada, dan negara-negara maju lainnya membedakan pengutang (debitur) dan kredit (loan) ke dalam beberapa golongan.

Pertama, ada utang atau kredit untuk para nasabah debitur dengan kemampuan dan catatan kredit paling tinggi yang disebut prime loan. Karena ini merupakan utang dengan risiko paling rendah, bunga utangnya pun juga paling rendah, yaitu umumnya mengikuti bunga pasar.

Selain itu, ada pula yang disebut alt-A loan. Ini adalah salah satu jenis utang yang diberikan untuk nasabah dengan kualitas kemampuan kredit menengah, tepatnya di antara prime dan subprime.

Pengutang yang masuk kelompok ini biasanya memiliki sejarah kredit yang lumayan bersih. Tapi, proses pemberian kreditnya sendiri biasanya membuat risiko kredit alt-A itu lebih tinggi dibanding kredit prime. Misalnya, rasio utang terhadap pendapatan nasabah tinggi, atau dokumen-dokumen pendapatan nasabah kurang mencukupi.

Tipe kredit ini termasuk menarik di mata para lembaga penyalur kredit. Sebab, kredit ini menghasilkan bunga yang relatif tinggi dibandingkan dengan bunga prime loan. Memang, risiko kredit ini agak tinggi karena dokumentasi pendapatan debiturnya biasanya kurang lengkap. Namun, peringkat kredit (credit rating) pengutangnya masih cukup tinggi.

Oh, ya, berbicara soal credit rating, lembaga-lembaga keuangan di negara maju — terutama AS — telah menggunakan sistem penilaian peringkat kualitas kredit yang canggih untuk nasabah mereka.

Umumnya, mereka menggunakan sistem pemeringkatan kredit keluaran Fair Isaac Corporation (FICO). FICO adalah perusahaan konsultan manajemen yang berkantor di Minneapolis, Minnesota, AS. Pelanggan FICO sendiri telah mencapai sekitar 1.400 perusahaan jasa keuangan di seluruh dunia.

Nah, dengan menggunakan skor FICO ini, lembaga keuangan bisa dengan mudah menilai tingkat kemampuan kredit nasabahnya.

Nasabah yang memiliki skor FICO di atas 620, dari skala 300 sampai 850, termasuk ke dalam nasabah yang berhak memperoleh kredit prime. Tapi, nasabah kelas ini yang tidak bisa menyediakan dokumen pendapatan yang lengkap bisa juga masuk kategori alt-A. Sementara, yang skor FICO-nya di bawah 620, termasuk golongan subprime.

Kredit subprime adalah kredit yang berisiko, baik untuk kreditur maupun pengutang atau debiturnya. Sebab, kredit ini mengadung kombinasi bunga yang tinggi dan sejarah kredit nasabah yang buruk. Namun, tetap saja, lembaga-lembaga keuangan berlomba-lomba mengucurkan kredit ini. Maklum, selain memberikan keuntungan bunga tinggi, pasar kredit ini juga sangat besar.

Asal tahu saja, nasabah yang memiliki skor rating kredit FICO (Fair Isaac Corporation) di bawah 620 masuk dalam kelompok nasabah subprime.

Artinya, nasabah ini tidak layak memperoleh kredit dengan bunga paling rendah yang ada di pasar. Karena itulah, kredit untuk nasabah semacam ini juga sering disebut sebagai “kredit kesempatan kedua” atau second chance lending.

Biasanya, para nasabah pengutang subprime memiliki beberapa karakteristik yang membuat risiko kreditnya tinggi. Di antaranya, dalam 12 bulan terakhir, ia dua kali atau lebih pembayaran pinjamannya telat 30 hari dari jatuh tempo. Yang lainnya, satu kali atau lebih pembayaran utangnya telah 60 hari dari jatuh tempo dalam 36 bulan terakhir. Untuk sebuah perusahaan, mungkin ia juga pernah bangkrut dalam jangka waktu 5 tahun terakhir.

Cuma, untuk mengkompensasi risikonya tinggi ini, penyalur kredit subprime biasanya menetapkan tarif yang lebih tinggi untuk bunga, biaya keterlambatan cicilan, dan lain-lain.

Nah, jenis kredit subprime sendiri sebenarnya bermacam-macam. Ada kredit subprime untuk pembelian rumah atau KPR (mortgage), kredit kepemilikan mobil, kredit renovasi rumah, dan kartu kredit. Bahkan, ada nasabah yang juga menggunakan kredit subprime ini untuk membayar utang kartu kredit yang bunganya jauh lebih tinggi.

Jadi, sekali lagi, kredit subprime tak hanya mencakup kredit KPR. Tapi, selama ini KPR subprime paling disoroti karena nilainya paling tinggi di Amerika Serikat sana. Dampak krisis di KPR subprime ini juga bisa mempengaruhi perekonomian secara lebih luas.

Kredit pemilikan rumah (KPR) subprime memang sudah mengandung risiko tinggi sejak diterbitkan. Pertama, debitur atau nasabah pengutangnya sendiri berisiko karena memiliki sejarah kredit yang tak jelas. Selain itu, skim KPR subprime sendiri juga mengandung risiko tinggi. Skim ini sangat rentan terhadap perubahan kondisi ekonomi makro seperti perubahan kebijakan bunga.

Bentuk�kredit pemilikan rumah (KPR) subprime yang ada di Amerika Serikat (AS) sendiri bisa bermacam-macam. Misalnya, ada yang disebut sebagai interest-only mortgages.

Sesuai dengan namanya, KPR jenis ini memberikan peluang bagi nasabah pengutang untuk membayarkan cicilan bunga saja dalam jangka waktu tertentu (antara 5 tahun sampai 10 tahun).

Yang kedua, ada pula produk KPR berwujud pick a payment loan. Artinya, debitur bisa memilih skim pembayaran cicilan KPR-nya sendiri. Bisa membayar cicilan bunga saja, bunga plus cicilan pokok, dan seterusnya.

Selain itu, bentuk KPR suprime lain yang sangat populer sejak tahun 1990-an di AS adalah KPR yang menetapkan bunga tetap yang rendah dalam beberapa tahun pertama. Tapi, bunga itu akan berubah menjadi mengambang (variable rate) dalam periode berikutnya.

Misalnya, ada yang disebut KPR “2-28″. Ini adalah KPR subprime yang menawarkan bunga tetap murah dalam dua tahun pertama. Tapi, setelah dua tahun sampai akhir periode KPR yang mencapai 28 tahun, bunganya kemudian berubah menjadi mengambang mengikuti bunga pasar.

Nah, jika kita perhatikan, skim KPR subprime sendiri memang sangat berisiko. Ambil contoh, KPR yang terakhir tadi. Jika ternyata bunga acuan pasar kemudian meningkat drastis setelah dua tahun, berarti bunga KPR itu akan ikut terbang tinggi. Padahal, debitur KPR-nya sendiri juga berisiko karena memiliki sejarah kredit yang buruk.
Persis inilah yang terjadi di AS saat ini. Akibat harga-harga rumah anjlok dan suku bunga melejit, pasar KPR subprime terjerumus ke dalam krisis.

Masalah di pasar kredit perumahan subprime Amerika Serikat sebenarnya ibarat bom waktu yang sudah tertanam sejak lama. Sebab, proses penggelembungan nilai KPR subprime sudah mulai terjadi sejak sekitar tahun 2003. Banyak ekonom pun sejatinya tahu bahwa suatu saat bom waktu itu akan meletus. Tapi, mereka tak bisa menebak dengan pasti kapan krisis KPR subprime itu akan meledak.

Sekadar mengingatkan, untuk memicu ekonominya, Amerika Serikat (AS) telah memangkas suku bunganya hingga 1% pada bulan Juni 2003.

Betul, suku bunga yang super-rendah ini memang telah membuat ekonomi AS tetap bergulir. Tapi, kebijakan itu membuat sebuah risiko baru tertanam di sektor properti.

Suku bunga yang sangat rendah — termasuk bunga kredit — membuat perbankan AS berlomba-lomba mengucurkan KPR. Saking jor-jorannya, mereka juga menyalurkan KPR berisiko tinggi atau subprime kepada nasabah-nasabah dengan risiko kredit tinggi.

Nilai KPR subprime ini terus bergulung-gulung hingga mencapai sekitar US$ 500 miliar. Nah, permintaan rumah yang tinggi ini juga membuat harga rumah di AS melonjak tinggi melewati harga wajarnya. Fenomena inilah yang disebut sebagai housing bubble.

Masalahnya, bank-bank kemudian menjual tagihan KPR subprime dalam bentuk surat berharga yang dikenal dengan sebutan collaterlized debt obligation (CDO). Nah, CDO ini kemudian diburu oleh para manajer investasi (hedge fund) di seluruh dunia. Bahkan, para hedge fund itu menjaminkan CDO-nya ke bank untuk memperoleh utang baru. Selanjutnya, dananya untuk membeli CDO yang lain lagi.

Sialnya, The Fed (Bank Sentral AS) kemudian menaikkan bunganya hingga kisaran 5,25%. Akibatnya, kredit subprime banyak yang macet. Ujungnya tentu harga CDO juga anjlok dan para hedge fund merugi. Bahkan, beberapa hedge fund besar membekukan produk-produk investasinya yang berinvestasi di CDO. Mereka juga menjual asetnya di pasar modal. Nah, hal inilah yang memicu longsornya pasar keuangan global saat ini.

Categories: economic Tags: , ,

Mengenal The Fed

January 22, 2009 chris'Gallery Leave a comment
Kontan Online: Kamis, 26 Juni 2008 | 17:25

Karena memiliki kekuatan terbesar di dunia, ekonomi Amerika Serikat (AS) sangat menentukan arah pergerakan ekonomi dan pasar modal dunia. Karena itu, investor sebaiknya juga mengenal seluk-beluk dan cara kerja The Fed atau Bank Sentral AS. Maklum, saat ini, kebijakan The Fed-lah yang menyetir kebijakan moneter di AS. Kebijakannya juga sangat menentukan arah pasar modal di seluruh dunia.

THE Federal Reserves atau The Fed dibentuk oleh Kongres AS pada tahun 1913. Lembaga ini sangat independen. Artinya, kebijakannya tidak perlu memperoleh persetujuan dari Presiden AS. Tapi, secara berkala, Kongres akan mengevaluasi kinerja The Fed.

The Fed ini dijalankan oleh Dewan Gubernur (Board of Governors) yang bermarkas di New York. Dewan ini berisi tujuh anggota dengan masa jabatan 14 tahun. Semua anggota dewan ini harus disetujui oleh Senat.

Selain itu, ada Ketua dan Wakil Ketua Dewan Gubernur The Fed yang ditunjuk oleh presiden untuk masa jabatan empat tahun. Alan Greenspan — bos The Fed yang paling terkenal — menduduki posisi ketua dewan gubernur sejak tahun 1987. Pada 1 Februari 2006 lalu, Ben Bernanke naik menggantikan Greenspan sebagai Ketua The Fed.

Oh, ya, The Fed memiliki 12 cabang Federal Reserves Bank yang terletak di kota-kota besar.
The Fed juga memiliki tim yang disebut Federal Open Market Committee atau FOMC. Ini merupakan tim paling berkuasa yang menentukan seluruh kebijakan The Fed.

Biasanya, Ketua Dewan Gubernur The Fed juga menjadi kepala FOMC. Adapun anggota FOMC terdiri dari tujuh anggota Dewan Gubernur, Kepala Federal Reserve Bank New York, dan kepala dari empat Reserve Bank lain yang menjabat secara bergiliran. Semua pejabat-pejabat ini memiliki satu hak suara dalam voting FOMC.

FOMC selalu membuat kebijakan penting menyangkut suku bunga dan kebijakan moneter AS. Karenanya, investor di seluruh dunia selalu memperhatikan jadwal rapat FOMC ini. Media pun berlomba-lomba memberitakannya.

Layaknya bank sentral di negara-negara lain, The Federal Reserves (The Fed) mempunyai beberapa tugas pokok. Di antaranya adalah menjadi bank bagi bank-bank di seluruh Amerika Serikat (AS), menjadi bank untuk pemerintah AS, dan menjadi regulator institusi keuangan. Selain itu, The Fed juga memiliki wewenang untuk mengelola kondisi moneter AS. Bedanya, dibandingkan dengan bank-bank sentral lain, kebijakan-kebijakan The Fed itu bisa mempengaruhi pasar keuangan di seluruh dunia, termasuk juga sampai ke Indonesia.

YANG paling banyak memperoleh sorotan adalah kebijakan moneter The Fed. Ini mencakup semua kebijakan untuk mempengaruhi jumlah uang dan kredit yang beredar di dalam ekonomi AS. Selanjutnya, perubahan jumlah uang beredar dan kredit itu akan mempengaruhi tingkat suku bunga dan kinerja ekonomi AS.

The Fed memiliki tiga alat utama untuk menjalankan kebijakan moneternya. Yang pertama adalah melalui operasi pasar terbuka. Seperti Bank Indonesia (BI) di Indonesia, The Fed sering membeli maupun menjual surat utang negara di pasar finansial. Dengan cara ini, The Fed ingin mengendalikan jumlah dana di sistem perbankan.

Yang kedua, The Fed juga melakukan kebijakan moneter melalui penentuan bunga diskonto atau discount rate. Ini adalah bunga yang dikenakan kepada bank-bank yang meminjam dana jangka pendek dari The Fed. Discount rate ini sangat penting karena memberikan petunjuk tentang arah kebijakan moneter The Fed.

Contoh terbaru, akhir pekan lalu, The Fed memangkas discount rate dari 6,25% menjadi 5,75%. Tujuannya, The Fed ingin menyediakan likuiditas atau dana berbunga murah kepada bank-bank yang memang sedang butuh dana jangka pendek setelah terjadi krisis kredit perumahan berisiko tinggi (subprime di AS). Dampak kebijakan The Fed ini sungguh luar biasa. Bursa saham dunia yang semaput dalam dua pekan terakhir langsung siuman.

The Fed juga bisa mengontrol uang yang beredar di perbankan dengan menentukan giro wajib minimum atau reserver requirements. Ini adalah dana minimal yang harus disimpan perbankan.

Terakhir, yang paling banyak mendapat sorotan investor dunia, The Fed juga mempunyai alat berupa The Federal Fund Rate untuk mengontrol kondisi moneter AS. Sejatinya, The Fed Fund Rate Ini adalah bunga yang berlaku antar-bank ketika mereka saling meminjam dana. Nah, FOMC akan menentukan target The Fed Fund Rate ini dari waktu ke waktu. Jadi, sekali lagi, The Fed hanya menentukan target saja, bukan bunga yang sebenarnya. Sebab, bunga antar-bank yang sebenarnya ditentukan oleh mekanisme pasar antar-bank.

Nah, jika orang mengatakan The Fed menaikkan atau menurunkan suku bunga, sebenarnya yang mereka bicarakan adalah target The Fed Fund Rate ini. Tapi, meskipun hanya target, The Fed Rund Rate ini ujungnya akan sangat mempengaruhi tingkat bunga perbankan lain, seperti bunga kredit dan bunga simpanan.

Pada tanggal 18 September mendatang, The Federal Open Market Committee (FOMC) akan menggelar pertemuan rutin. Pertemuan seperti ini selalu ditunggu-tunggu oleh pelaku pasar keuangan di seluruh dunia. Maklum, di dalam rapat itu, FOMC biasanya akan menentukan kebijakan suku bunga di Amerika serikat. Nah, peningkatan atau penurunan suku bunga di AS ini akan sangat menentukan arah pasar modal dunia.

Pertemuan FOMC biasanya berlangsung delapan kali dalam satu tahun. Dalam pertemuan ini, FOMC akan membuat keputusan apakah perlu mengubah kebijakan moneter di Amerika Serikat (AS).

Sebelum pertemuan itu, setiap anggota FOMC memperoleh “Green Book” yang berisi prediksi ekonomi AS yang dibuat oleh para staf dewan gubernur The Fed. Mereka juga menerima “Blue Book” yang berisi analisis kebijakan moneter dan “Beige Book” tentang kondisi ekonomi regional.

Dalam pertemuan itu, FOMC juga memutuskan apakah akan menaikkan, menurunkan, atau tak mengubah target Fed funds rate. FOMC juga memutuskan tingkat bunga diskonto (discount rate). Sekadar mengingatkan, Fed funds rate adalah bunga pinjam-meminjam dana atarbank. Adapun discount rate adalah bunga pinjaman dana dari The Fed untuk bank-bank.

Khusus soal Fed funds rate, The Fed hanya menentukan targetnya karena Fed funds rate yang berlaku di pasar sebenarnya sangat bergantung pada mekanisme pasar. The Fed akan berupaya keras untuk mempengaruhi bunga itu, tapi ada banyak faktor lain yang ikut menentukannya.

Misalnya, pada saat masa liburan akhir tahun, masyarakat membutuhkan dana yang lebih banyak untuk konsumsi. Pada saat itu, bank harus mengeluarkan banyak dana dan pada akhirnya harus meminjam dana jangka pendek (overnight) dari bank lain. Ini akan membuat bunga Fed funds rate meningkat.

Jadi, jangan bingung jika media memberitakan The Fed meningkatkan bunga. Sebenarnya, yang mereka maksud adalah target bunga Fed funds rate itu. Bagaimana target ini bisa mempengaruhi bunga Perbankan??
The Federal Reserve (The Fed) bisa membuat keputusan menaikkan, menurunkan, atau tak mengubah target The Fed funds rate. Jika ia menurunkan target bunga itu, biasanya sentimen positif akan merasuki para saham global.

Soalnya, bunga yang rendah membuat investor lebih suka masuk ke pasar saham. Sebaliknya, jika The Fed menaikkan target bunga, pasar saham akan dirasuki sentimen negatif.

Sejatinya,�kebijakan moneter The Fed selalu bertujuan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja, dan harga-harga yang stabil. Karenanya, keputusan atas target Fed funds rate yang dibuat Federal Open Market Committee (FOMC) akan selalu mengacu pada tujuan-tujuan itu.

Jika FOMC ingin mendongkrak ekonomi, ia akan menurunkan target Fed funds rate. Sebaliknya, jika ingin mengerem laju ekonomi, FOMC akan menaikkan targetnya.

Kadangkala, FOMC tidak mengubah target Fed funds rate tapi memperingatkan bahwa mungkin akan ada perubahan kebijakan di masa yang akan datang. Peringatan ini disebut “bias”.

Agar target Fed funds rate itu benar-benar mempengaruhi bunga di pasar, selain mengubah target, FOMC juga aktif melakukan jual-beli surat berharga. Saat menaikkan target Feds fund rate, ia menjual surat berharga ke pasar. Dengan cara itu, ia menarik dana dari pasar sehingga jumlah dana yang tersedia untuk perbankan berkurang dan bank-bank akan saling meminjam dana jangka pendek (overnight) dengan bunga yang lebih tinggi.Sebaliknya, ketika menurunkan target Fed funds rate, FOMC akan membeli surat berharga. Sebab, dengan membeli surat berharga itu ia menggelontorkan uang ke sistem perbankan.

Akibatnya, bunga pinjaman dana antarbank akan turun karena dana di pasar melimpah. Jika kondisi ini bertahan, akibatnya bunga kredit yang disalurkan perbankan juga makin turun. Jadi, konsumen bisa mengkredit rumah atau mobil dengan bunga lebih murah. Nah, konsumsi yang lebih tinggi ini akan membuat ekonomi berputar lebih cepat.

Inflasi dan Investasi

January 22, 2009 chris'Gallery Leave a comment
Kontan Online: Kamis, 26 Juni 2008 | 10:00
Sebelum krisis ekonomi melanda Indonesia, kita hanya perlu merogoh kocek sekitar Rp 2 juta untuk membeli sebuah sepeda motor baru. Tapi, kini harga sepeda motor baru minimal sudah mencapai sekitar Rp 10 juta. Selain motor, harga rumah, mobil, minyak, bensin, bahkan sampai harga nasi bungkus juga makin mahal. Ini fakta bahwa kita telah mengalami inflasi yang sangat tinggi dalam 10 tahun terakhir.

Namun, apakah inflasi, apa yang memicu inflasi, dan apa dampaknya bagi investasi kita? Definisi inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara terus-menerus. Tingkat inflasi dinyatakan dalam persen setiap tahun.

Jika inflasi meningkat, nilai uang kita juga akan menyusut. Sebab, dengan jumlah uang yang sama kita hanya mampu membeli produk atau jasa dalam jumlah yang semakin sedikit.

Jenis atau variasi inflasi sendiri ada beberapa. Yang pertama adalah deflasi. Ini adalah lawan dari inflasi. Jadi, dalam deflasi, harga barang dan jasa justru turun. Kedua, adalah hiperinflasi. Ini terjadi jika inflasi menyentuh angka yang sangat tinggi. Hiperinflasi pernah terjadi di Jerman pada tahun 1923 ketika harga-harga melonjak sampai 2.500% dalam sebulan.

Ketiga adalah stagflasi. Ini adalah kombinasi antara inflasi, pertumbuhan ekonomi yang mandek, dan pengangguran yang tinggi. Banyak negara industri mengalami stagflasi pada tahun 1970-an ketika kondisi ekonomi diperparah oleh kebijakan OPEC menaikkan harga minyak.

Saat ini, negara-negara maju berusaha menjaga inflasi mereka di angka 2%-3%. Sementara, di negara-negara berkembang biasanya tingkat inflasinya lebih tinggi.

Ada dua hal yang memicu inflasi itu. Yang pertama adalah peningkatan permintaan. Inflasi semacam ini disebut juga demand-pull inflation. Dalam kondisi ini, harga barang dan jasa meningkat karena permintaannya melonjak tinggi.

Yang kedua, biaya produksi (cost-push inflation). Pada saat biaya produksi perusahaan naik, biasanya ia juga akan meningkatkan harga produknya. Biaya produksi itu bisa mencakup gaji, pajak, harga bahan baku, dan lain-lain.?

Banyak orang yang mengatakan bahwa inflasi itu seperti hantu. Ia tak kelihatan tapi mengancam semua orang. Tak hanya orang miskin, orang kaya pun akan terkena dampak inflasi. Nilai uang yang mereka miliki akan sama-sama tergerus. Tapi, tentu saja, daya tahan masing-masing orang untuk bisa memikul dampak inflasi berbeda-beda.
Orang miskin merasakan dampak paling pahit.

NAMUN, sebenarnya dampak inflasi juga bergantung pada jenis inflasinya, apakah masyarakat sudah mengantisipasi inflasi itu atau belum.

Jika suatu inflasi sudah diantisipasi (anticipated inflation), kita bisa bisa siap-siap untuk mengkompensasi inflasi itu. Misalnya, perbankan bisa mengubah bunganya atau karyawan bisa melakukan negosiasi dengan perusahaan untuk memberikan kenaikan gaji otomatis yang menyesuaikan dengan tingkat inflasi.

Masalah menjadi rumit jika inflasi itu datang tiba-tiba atau tak bisa diantisipasi (unanticipated inflation).
Ambil contoh, pihak kreditur pasti akan rugi, sementara debitur atau pengutang untung jika kreditur itu tak bisa mengantisipasi inflasi dengan tepat. Ketidakpastian juga akan membuat perusahaan dan konsumen menunda konsumsinya. Ujung-ujungnya, ekonomi dalam jangka panjang akan terganggu. Selain itu, daya beli orang yang memiliki gaji tetap seperti pensiunan juga pasti akan merosot.

Namun demikian, jangan hanya melihat inflasi dari sudut pandang negatif. Sebab, sebenarnya inflasi juga memberikan sinyal-sinyal positif tentang perekonomian suatu negara. Sejatinya, adanya inflasi merupakan tanda bahwa ekonomi suatu negara sedang tumbuh. Bahkan, dalam kondisi tertentu, inflasi yang terlalu rendah (atau bahkan deflasi) sama buruknya dengan inflasi yang tinggi.

Inflasi yang rendah itu mungkin merupakan pertanda bahwa ekonomi sedang melemah. Misalnya, inflasi yang rendah itu muncul karena tingkat produksi perusahaan rendah atau konsumsi masyarakat melambat. Kesimpulannya, kita tak bisa selalu mengatakan bahwa inflasi merupakan hal yang buruk.?

Memahami seluk-beluk investasi sangat penting bagi para investor. Sebab, inflasi juga mempengaruhi nilai uang yang diinvestasikan oleh investor. Inflasi itu akan menggerus keuntungan investasi para investor. Jadi, investor harus hati-hati memilih produk investasi. Jika asal tubruk, alih-alih berbiak, dana yang ditanamkan oleh investor justru terancam menyusut.

DAMPAK inflasi terhadap portofolio investasi Anda sangat bergantung pada jenis instrumen investasi yang Anda miliki. Jika hanya berinvestasi di saham, Anda mestinya tak perlu terlalu khawatir.

Pasalnya, dalam jangka panjang, pendapatan dan laba emiten saham akan tumbuh mengikuti inflasi. Karenanya, dalam jangka panjang, inflasi juga akan membuat harga saham selalu naik. Jadi, Anda tak perlu khawatir inflasi itu akan menggerus investasi saham Anda.

Namun, ada pengecualian, saat terjadi stagflasi. Kombinasi ekonomi yang buruk dan peningkatan biaya produksi membuat kinerja perusahaan itu juga memburuk.

Lain lagi ceritanya investor yang berinvestasi di instrumen pendapatan tetap. Mereka ini justru akan mengalami dampak paling buruk dari inflasi. Ambil contoh, setahun yang lalu, seorang investor menginvestasikan Rp 1 miliar dalam sebuah obligasi yang memberikan imbal hasil 10% per tahun. Artinya, saat ini, nilai investasi investor itu telah berkembang menjadi Rp 1,1 miliar.

Tapi, apakah keuntungan yang Rp 100 juta itu benar-benar riil?
Jawabannya tidak. Jika dalam setahun terakhir inflasi positif, nilai uang juga akan menyusut, termasuk keuntungan investor itu. Karenanya, kita juga harus memperhitungkan dampak inflasi. Jika inflasi satu tahun terakhir 6%, artinya keuntungan riil investor itu
sebenarnya hanya 4%.

Contoh ini menunjukkan perbedaan antara bunga nominal dan bunga riil. Bunga nominal adalah tingkat pertumbuhan jumlah uang Anda. Adapun bunga riil adalah pertumbuhan riil dari daya beli Anda. Dengan kata lain, rumus bunga riil adalah: bunga nominal dikurangi dengan inflasi. ?

Categories: economic Tags: , ,

Melihat Sektor-Sektor Unggulan di Kuartal I 2009

December 24, 2008 chris'Gallery Leave a comment

JAKARTA. (Kontan: Rabu, 24 Desember 2008 | 15:07) – Kendati wajah bursa tahun depan masih muram, para investor masih punya peluang meraih keuntungan. Syaratnya, investor memilih saham dan sektor yang tepat. Berikut sektor saham yang berpotensi memberikan keuntungan di tahun 2009.

Memang di awal tahun 2009 ada potensi kredit macet (non performing loan) meningkat. Namun, tren penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) yang diperkirakan akan turun dari 9,25% menjadi 8%-8,5% membuat saham-saham perbankan menjadi menarik. Sebab, penurunan suku bunga akan membuat risiko kredit macet turun dan kredit perbankan bisa mengucur lebih deras.

Pemerintah akan menggenjot pembangunan proyek-proyek infrastruktur, seperti jalan raya, jalan tol, jembatan, bendungan dan lain-lain. Tujuannya tak lain untuk menggerakkan roda perekonomian.

Tahun depan masih cukup cerah bagi saham-saham produsen barang-barang konsumsi (consumer goods). Meski daya beli masyarakat melemah, tapi kebutuhan akan makan dan minum tetap bisa menjaga permintaan produk makanan dan minuman di dalam negeri. Walhasil, meski krisis, permintaan akan tetap ada.

Turunnya harga minyak dari US$ 140 per barel pada Juli 2008 ke kisaran US$ 40 sebarel pada penghujung 2008, tidak membuat pamor saham-saham energi surut. Salah satu perusahaan energi yang diprediksi akan berjaya pada 2009 antara lain PT Perusahaan Gas Negara Tbk.

Sejak 2007 hingga pertengahan 2008, sektor komoditas memang merajai BEI. Namun, turunnya harga minyak membuat saham-saham komoditas terus melorot. Para analis menyarankan, investor yang berminat mendekap saham-saham komoditas agar bersikap lebih selektif.

Hari Widowati, Dupla K.P Sianturi, Andri Indradie KONTAN

Bom Waktu US$ 3 Miliar di Perbankan Kita

December 23, 2008 chris'Gallery Leave a comment

JAKARTA. (Kontan: Selasa, 23 Desember 2008 | 07:54) – Ini adalah bom waktu untuk perbankan Indonesia. Menurut perhitungan Bank Indonesia (BI), eksposur dana nasabah dalam produk terstruktur perbankan mencapai US$ 3 miliar. Dana itu masuk ke belasan bank yang menjadi agen.

BI sudah menerima laporan dari bank yang menjual produk itu. “Lebih dari 10 bank yang sudah melapor,” kata Deputi Gubernur BI Siti Chalimah Fadjrijah, kemarin (22/12).

Dana nasabah tersebut kondisinya bermacam-macam. Ada yang belum jatuh tempo, ada pula yang macet dan sedang direstrukturisasi. “Tapi, saya belum tahun kondisi terakhirnya,” tuturnya.

Produk terstruktur merupakan kombinasi berbagai instrumen derivatif valas untuk tujuan mendapatkan tambahan laba. BI menilai produk ini bisa mendorong transaksi valas untuk tujuan spekulatif.

Tapi, kata Siti, BI tak melarang semua produk terstruktur. Ada produk terstruktur yang memang bertujuan untuk lindung nilai atau hedging nilai kurs bagi para eksportir dan importir. BI hanya melarang produk derivatif valas yang tidak memiliki underlying transaction dan bersifat spekulatif.

Untuk mencegah persoalan ini di masa depan, Deputi Gubernur BI Muliaman D Hadad menambahi, BI akan segera mengeluarkan acuan tentang fungsi keagenan perbankan. Terutama dalam menjual produk-produk derivatif dan produk offshore. “Tak sembarang bank bisa mengageni produk yang tidak jelas,” katanya.

Tapi, ibaratnya nasi sudah menjadi bubur. Banyak dana nasabah yang amblas di produk ini karena gejolak pasar keuangan global belakangan ini. Masalahnya, mampukah para nasabah membayar kewajibannya? Sebab rata-rata transaksi ini memakai fasilitas margin atau ada utang dari bank.

Jika nasabah tak mampu membayar, maka perbankan Indonesia bisa terekspos pada kerugian hingga US$ 3 miliar.

Sanny Cicilia KONTAN