Beli “Jenang” dan “Jeneng”
Jakarta, Selasa Sore – 3 November 2009
Suatu ungkapan, peribahasa atau apalah istilahnya yang diungkapkan rekan saya, mengingatkan pada kejadian-kejadian yang pernah terjadi beberapa tahun yang lalu. Entah suatu kebetulan atau memang sudah menjadi peribahasa yang berlaku umum di kalangan masyarakat.
Peribahasa atau ungkapan ini menggambarkan betapa berbedanya output yang dihasilkan dari uang yang dikeluarkan untuk membayar atau membeli komoditas “jenang” dan “jeneng”.
Sepintas hanya terjadi perbedaan vokalnya saja, tetapi arti dari kata tersebut akan keliatan nyata perbedaannya.
Ambillah contoh dengan uang Rp50.000,-. Apabila dibelikan “jenang” (atau dodol), hasilnya lumayan banyak. Dibagi 10 orang pun juga masih cukup.
Berbeda kalau uang tersebut akan kita belikan “jeneng” (atau istilah prestice-nya jabatan / posisi). Dengan uang Rp50.000,- tersebut sebenarnya tidak ada apa-apanya. Contohnya saja di daerah pedesaan. Untuk bisa mendapatkan posisi lurah / kepala desa saja, seorang kandidat harus mengeluarkan uang ratusan juta rupiah.
Dengan gaji atau bengkok tanah yang diterima dan dikelolanya selama masa jabatan 5 tahun kedepan, apakah mungkin bisa meng-cover pengeluarannya pada saat kampanye pemilihan kepala desa / lurah tersebut. Jawaban singkatnya adalah “tidak”. Walaupu ditambah dengan pendatapan lain-lainpun juga tidak pernah mencukupi. Jadi sebenarnya apa yang dicari mereka berkaitan dengan membeli “jeneng” tersebut ?!
Belum lagi harus menghadiri setiap hajatan atau undangan lainnya yang dilayangkan kepadanya. Sepertinya tidak mungkin menolak secara langsung untuk tidak hadir dalam undangan tersebut. Hadir ataupun tidak, kemungkinan besar harus mengeluarkan dan meninggalkan amplop. Ditambah lagi… undangan-undangan yang lainnya, paling tidak harus menyediakan uang ekstra untuk kegiatan tersebut.
Dibandingkan dengan gaji / penghasilan mereka dari lurah / kepala desa, sungguh diluar dugaan. Bisa jadi kalau tidak kuat modalnya, bisa-bisa dalam waktu singkat bisa langsung bangkrut. Belum lagi harus melakukan maintenance-nya setiap saat.
Disini masalah sebenarnya bahwa harga sebuah “jeneng” itu jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga setumpuk “jenang”.
eof.
Recent Comments