Premium Turun, SPBU Tak Rugi

Jakarta (Kontan: Rabu, 12 November 2008 | 10:39) Rencana pemerintah menurunkan harga premium Rp 500 per liter mulai 1 Desember mendatang tidak merisaukan para pemilik Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Penurunan harga tersebut tidak ikut menurunkan pendapatan mereka, karena margin keuntungan menjadi pengecer Bahan Bakar Minyak (BBM) PT Pertamina (Persero) sudah ditetapkan fix.
“Bisa berpengaruh kalau perhitungan marginnya ditentukan berdasarkan persentase. Tapi kan sekarang sudah ditetapkan marjinnya fix,” ujar Direktur Utama PT Gasindo Citra Perwira Mohammad Nur Adib, Rabu (12/11).
Adib menyebut marjin yang diberikan Pertamina kepada pengusaha SPBU adalah sebesar Rp 180 per liter untuk SPBU yang tidak memegang sertifikasi pasti pas, Rp 200 per liter untuk yang sudah berkomitmen mengikuti standar penjualan Pertamina Way, serta Rp 205 per liter untuk SPBU pasti pas.
“Jadi silahkan saja kalau mau diturunkan harganya. Malahan kalau harga diturunkan, makin banyak pemilik kendaraan yang beli premium sehingga konsumsi naik,” kata Adib yang juga Ketua Umum Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas).
Adib menambahkan kalau pemerintah jadi membatasi konsumsi BBM Bersubsidi, seluruh pengusaha yang tergabung dalam asosiasi akan mendukungnya.
Gentur Putro Jati
Wah perkataan bung Nur Adib sangat bertolak belakang dengan yang diberitakan oleh kompas.com pada Rabu, 3 Desember 2008 | 08:21 WIB.
Nih pernyataan dari bung Nur Adib yang dikutip dari “http://www.kompas.com/read/xml/2008/12/03/08213355/minta.kompensasi.spbu.tidak.mau.jual.premium.”
”Bayangkan nilainya jika ada pengusaha yang harus menanggung kerugian untuk premium sebanyak 54.000 kiloliter,” tutur Nur Adib.
Iya nich bung, kadang kesimpangsiuran ini hanya dipermukaan. Sementara kita sebagai konsumen kadang juga tidak tersentuh sama sekali atas perubahan harga yg terjadi.
Semestinya informasi dibuka saja seluas-luasnya biar masyarakat secara umum tahu permasalahannya, sehingga kucing2an pengusaha dan segelintir oknum yg menikmati situasi ini bisa terbuka…
Selamat berjuang bung..
Wah klo dibuka blak-blakan, nanti rahasia dapurnya gak ada lagi nih bung.hehehe…
Masyarakat hanya disuruh menikmati sandiwara politik tanpa berhak berperan.
Dapat peran paling juga peran figuran, pemanis bumbu dari sandiwara politik.
Pengusaha SPBU rugi 22M pada gembor-gembor.
Rakyat ruginya gak ada yg bisa memberikan nilai pasti aja didiemin. Mo nangis kek, mo mati kek, mo kelaparan kek sang aktor cuma tutup telinga, tutup mata.
Selamat berjuang juga bung chris
Salam kenal dari Reporter Bangsa Sekarat.
Klo ada waktu luang monggo stay tune di http://duniakutersenyum.wordpress.com (Radio Kritis Bangsa, 86.86Mhz : Radio Kebebasan Bicara dan Anti Ketidakadilan)
Mudah2an kritikan2 kita bisa membuahkan hasil yang lebih positif kepada pemerintah dan masyarakat secara luas.
Salam,
Chris